Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bakom Minta Google dan Meta Bagi Hasil dengan Media, Australia Jadi Rujukan

A
Penulis: Ali Azhar D❯
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan. (FOTO/Bakom RI).
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan. (FOTO/Bakom RI).

Advertisement

 

Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mendesak platform digital dan perusahaan teknologi besar (big tech), termasuk Google dan Meta, untuk berbagi keuntungan secara adil dengan perusahaan media di Indonesia. Desakan ini muncul di tengah maraknya penyebaran ulang berita tanpa atribusi serta pemanfaatan konten jurnalistik oleh layanan kecerdasan buatan (AI).

Kepala Bakom RI, Syahganda Nainggolan, menyampaikan sikap pemerintah tersebut saat membuka Local Media Summit 2026 di Hotel Manhattan, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Di hadapan ratusan pekerja media dari berbagai penjuru Tanah Air, ia menegaskan bahwa langkah ini ditempuh demi melindungi hak jurnalis dan pekerja media.

Advertisement

Bakom memandang berita yang diproduksi media rawan dikomersialkan oleh platform digital demi keuntungan maksimal. Dalam praktiknya, pemanfaatan itu kerap mengesampingkan akurasi informasi sekaligus hak media yang menghasilkan berita tersebut.

“Pemerintah kalau bisa dikasih masukan bagaimana merumuskan keadilan, ke depan kita juga bisa mendorong agar Indonesia bisa bernegosiasi dengan pemilik-pemilik big tech,” kata Syahganda.

Syahganda menyoroti dua faktor yang mengubah lanskap informasi publik, yakni media sosial dan mesin pencari berbasis AI. Keduanya membuat arus informasi menyebar jauh lebih luas, tetapi turut melipatgandakan peredaran kabar yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Advertisement

Dampaknya, kata Bakom, dirasakan masyarakat yang menerima informasi keliru serta jurnalis yang telah bekerja memverifikasi fakta di lapangan. Berita hasil liputan media sering kali beredar ulang tanpa menyebut sumber aslinya, bahkan berisiko diubah dengan penambahan atau pengurangan data faktual.

Di sisi lain, Syahganda menilai media konvensional, termasuk media lokal arus utama, tetap unggul karena sumber beritanya jelas dan ada pihak yang bertanggung jawab atas setiap informasi yang dipublikasikan.

“Nah, kalau di media lama, ya termasuk media-media lokal yang media mainstream, di situ ada pertanggungjawaban yang bisa dikejar oleh publik,” tutur Syahganda.

Ia menambahkan, keterlibatan publik dalam pemberitaan harus dijaga agar rasa keadilan hadir di kedua sisi, baik bagi pembaca maupun penyaji berita.

Advertisement

Artikel Terkait

Threads Tambah Fitur Baru, Makin Serius Tantang X Milik Elon Musk

Threads Tambah Fitur Baru, Makin Serius Tantang X Milik Elon Musk

Meta menghadirkan sejumlah fitur baru di Threads, mulai dari Your Algo hingga pembaruan Communities, bersamaan dengan pencapaian 500 juta pengguna aktif bulanan yang semakin memperkuat persaingannya dengan X milik Elon M

Road to Malang Menyala: Peresmian MMAC Jadi Langkah Kolektif Wujudkan Malang City of Media Arts

Road to Malang Menyala: Peresmian MMAC Jadi Langkah Kolektif Wujudkan Malang City of Media Arts

Setelah Kota Malang resmi diakui UNESCO sebagai bagian dari jaringan City of Media Arts, berbagai pelaku kreatif, komunitas, seniman, dan pegiat teknologi kreatif mulai bergerak membangun langkah nyata untuk menghadirkan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer