alexametrics
30.1 C
Malang
Monday, 20 September 2021

Cinta yang Terusik Mertua

KABUPATEN – Kisah cinta Markonah, 22, warga Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini dimulai dari tempat kerja. Setelah mengenal Markucel, 25, beberapa waktu, ia akhirnya memutuskan untuk menikah pada 2018 lalu. “Saya ketemu suami saya memang di tempat kerja. Dia orangnya pendiam, tapi saya suka,” terangnya kepada koran ini beberapa waktu lalu.

Di tahun pertama pernikahan keduanya, semua berjalan lancar. Namun di tahun kedua, benih-benih persoalan mulai muncul.
“Suami saya itu anak tunggal, jadinya ibunya selalu mengontrol dia. Jadi seakan-akan saya harus ikut ibu dia, bukan suami saya yang punya kuasa,” bebernya. Selepas menikah, ia terpaksa tinggal di PMI (pondok mertua indah).

Selama satu rumah dengan mertuanya, ia menyebut bila Markucel merupakan lelaki TPP (terlalu pasrah dan pasif). Hal itupun dikeluhkan oleh Markonah, yang basic-nya adalah wanita APD (agresif perlu dimanja) itu. “Entah ya, setiap hubungan suami istri itu saya yang minta, bukan dia,” kata dia. Tak pelak, hal itupun membuat Markonah bertanya-tanya akan kesungguhan cinta Markucel.

“Tidak tahu, padahal dijodohkan pun tidak, tapi rasanya sama saja,” keluhnya.
Selain itu, karena suatu alasan, mertua perempuan Markonah tidak memperbolehkan Markucel untuk masuk kamar istrinya pada tahun kedua pernikahan. “Iya itu kejadiannya setelah satu tahun menikah. Sewajarnya suami istri pukul 21.00 ialah waktu bersama dan berhubungan, tapi sama mertua perempuan saya tidak boleh masuk kamar sebelum pukul 23.00,” kata Markonah.

Beberapa kali Markucel diminta ibunya untuk tidur di luar. “Ada sampai empat kali, saya juga merasa aneh, kok dia mau,” terangnya.
Tak betah dengan perlakuan itu, di tahun 2020 lalu ia memutuskan untuk berpisah dengan Markucel dan keluarganya. Persidangan cerai keduanya pun sudah dilakukan sejak Januari 2021. “Harus saya akui memang saya sama dia tercukupi secara materi. Tapi kalau ibu mertuanya begitu, bisa-bisa rambut saya botak walau materi terpenuhi,” pungkasnya. (biy/by)

KABUPATEN – Kisah cinta Markonah, 22, warga Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini dimulai dari tempat kerja. Setelah mengenal Markucel, 25, beberapa waktu, ia akhirnya memutuskan untuk menikah pada 2018 lalu. “Saya ketemu suami saya memang di tempat kerja. Dia orangnya pendiam, tapi saya suka,” terangnya kepada koran ini beberapa waktu lalu.

Di tahun pertama pernikahan keduanya, semua berjalan lancar. Namun di tahun kedua, benih-benih persoalan mulai muncul.
“Suami saya itu anak tunggal, jadinya ibunya selalu mengontrol dia. Jadi seakan-akan saya harus ikut ibu dia, bukan suami saya yang punya kuasa,” bebernya. Selepas menikah, ia terpaksa tinggal di PMI (pondok mertua indah).

Selama satu rumah dengan mertuanya, ia menyebut bila Markucel merupakan lelaki TPP (terlalu pasrah dan pasif). Hal itupun dikeluhkan oleh Markonah, yang basic-nya adalah wanita APD (agresif perlu dimanja) itu. “Entah ya, setiap hubungan suami istri itu saya yang minta, bukan dia,” kata dia. Tak pelak, hal itupun membuat Markonah bertanya-tanya akan kesungguhan cinta Markucel.

“Tidak tahu, padahal dijodohkan pun tidak, tapi rasanya sama saja,” keluhnya.
Selain itu, karena suatu alasan, mertua perempuan Markonah tidak memperbolehkan Markucel untuk masuk kamar istrinya pada tahun kedua pernikahan. “Iya itu kejadiannya setelah satu tahun menikah. Sewajarnya suami istri pukul 21.00 ialah waktu bersama dan berhubungan, tapi sama mertua perempuan saya tidak boleh masuk kamar sebelum pukul 23.00,” kata Markonah.

Beberapa kali Markucel diminta ibunya untuk tidur di luar. “Ada sampai empat kali, saya juga merasa aneh, kok dia mau,” terangnya.
Tak betah dengan perlakuan itu, di tahun 2020 lalu ia memutuskan untuk berpisah dengan Markucel dan keluarganya. Persidangan cerai keduanya pun sudah dilakukan sejak Januari 2021. “Harus saya akui memang saya sama dia tercukupi secara materi. Tapi kalau ibu mertuanya begitu, bisa-bisa rambut saya botak walau materi terpenuhi,” pungkasnya. (biy/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru