
RADAR MALANG-Minyak goreng bekas atau minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah rumah tangga kini bertransformasi menjadi produk bernilai strategis bagi industri penerbangan. PT Pertamina (Persero) terus pengembangan bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) melalui fasilitas pengolahan canggih di Kilang Cilacap, Jawa Tengah.
Pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan ini diterapkan lewat metode co-processing, yaitu mengolah minyak jelantah bersama kerosene pada unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT). Unit tersebut kini beroperasi secara komersial dengan estimasi kapasitas produksi bersih SAF mencapai 5.075 kiloliter per tahun. Dalam prosesnya, pemanfaatan hidrogen digunakan untuk meminimalisasi kandungan pengotor seperti sulfur sekaligus menaikkan standar kualitas bahan bakar.
Integrasi SAF ke armada penerbangan komersial pun telah terbukti. Di dalam negeri, Pelita Air sukses mengaplikasikan PertaminaSAF pada penerbangan perdana rute Jakarta–Denpasar pada 20 Agustus 2025. Langkah ini menyusul pencapaian sebelumnya ketika maskapai asal Australia, Virgin Australia, menjadi maskapai internasional pertama yang menerima pasokan SAF Pertamina di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada 18–19 September 2024 dengan volume penyaluran mencapai 160 kiloliter.

Inovasi bahan bakar terbarukan ini memberikan dampak yang signifikan. Penggunaan SAF dinilai mampu memangkas emisi gas rumah kaca hingga 80 persen sepanjang siklus hidupnya jika dibandingkan dengan avtur fosil konvensional. Selain itu, pemanfaatan limbah minyak goreng memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mencegah pencemaran lingkungan.
Sebagai produk drop-in fuel, SAF dapat langsung dicampurkan ke dalam avtur tanpa memerlukan perombakan mesin pesawat maupun infrastruktur pengisian di bandara. Penggunaannya juga membantu maskapai penerbangan domestik dan internasional memenuhi regulasi emisi global, seperti Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), sehingga terhindar dari potensi sanksi pajak karbon saat mendarat di kawasan yang menerapkan ambang batas emisi ketat.
Saat penggunaan energi hijau terus dikembangkan volume konsumsi avtur di sejumlah bandara udara utama Indonesia mencatatkan pergerakan yang bervariasi. Ahad Rahedi Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menjelaskan ”Data penjualan periode Januari–September (year to date), permintaan Bandara Juanda, Surabaya, mengalami penurunan dari rata-rata 693 kiloliter per hari pada 2025 menjadi 683 kiloliter per hari pada 2026, atau merosot sekitar 1,44 persen”.
Berbanding terbalik dengan penjualan avtur di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. “Angka penyaluran meningkat dari 2.280 kiloliter per hari pada periode Januari–September 2025 menjadi 2.337 kiloliter per hari pada periode yang sama di tahun 2026, atau tumbuh sekitar 2,5 persen” jelasnya. Kendati bergerak ke arah yang berbeda, perbedaan tren di kedua bandara ini belum secara langsung mencerminkan dampak dari komersialisasi SAF terhadap ketergantungan avtur konvensional.
Akselerasi penggunaan SAF dipastikan akan makin agresif seiring berlakunya regulasi baru dari pemerintah. Mulai tahun 2027, Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan kebijakan penggunaan bioavtur sebesar 1 persen bagi penerbangan yang beroperasi di tanah air.

Implementasi kebijakan ini diprioritaskan pada penerbangan dari bandara utama seperti Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, sebelum ditargetkan meningkat secara bertahap hingga mencapai porsi pencampuran 5 persen pada periode 2029–2030. Selain minyak jelantah, pemerintah juga mendorong pemanfaatan bahan baku alternatif lain, seperti Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), demi menjaga pasokan.
Pengembangan SAF berbasis minyak jelantah diharapkan mampu memperluas pemanfaatan limbah rumah tangga dan UMKM menjadi produk industri bernilai tinggi sekaligus mendukung target netralitas karbon di sektor penerbangan.(mon)



