
Agustus depan, Kota Malang menggelar Festival Mbois 11. Pemilihan diksi mbois sebagai identitas festival sesungguhnya menyimpan makna mendalam. Tak sekadar slogan promosi. Melainkan simbol yang diperjuangkan ke ruang publik. Secara historis, mbois merupakan kosakata khas Malangan. Diksi ini telah lama hidup dalam percakapan sehari-hari. Terutama di kalangan masyarakat Malang. Belakangan makin populer, sampai masuk ke ranah birokrasi. Tepatnya sejak awal 2025 lalu. Ketika Wahyu Hidayat mengemban amanah sebagai Penjabat (Pj) Wali Kota Malang.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memang tidak mengenal kata mbois. Namun di kalangan masyarakat, diksi tersebut dipakai untuk menyebut sesuatu yang keren, bagus, menarik, membanggakan, dan mengesankan. Seorang anak yang tampil percaya diri disebut mbois. Bangunan yang megah sekaligus indah juga bisa disebut mbois. Demikian pula gagasan yang kreatif memperoleh predikat yang sama.
Mbois berkembang sebagai bentuk kreativitas linguistik masyarakat Malang. Kota ini memang memiliki tradisi bahasa yang unik. Salah satunya bahasa walikan yang membalik susunan kata sebagai penanda identitas sosial. Meskipun mbois bukan bagian dari bahasa walikan, tapi tumbuh dalam ekosistem budaya yang sama. Karena itu, mbois bukan sekadar kosakata. Melainkan ekspresi karakter warga Bumi Arema yang percaya diri sekaligus penuh semangat.
Dalam perspektif ontologi, mbois bukan lagi sekadar bunyi atau rangkaian huruf. Tapi sudah berubah menjadi realitas sosial. Diksi ini hidup karena terus digunakan. Dimaknai. Diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, mbois ada bukan karena tercetak dalam kamus. Melainkan karena hadir dalam praktik kehidupan bermasyarakat.
Menjadikan diksi mbois sebagai media berkampanye maupun slogan pemerintah, itu sama saja mentransformasikan bahasa rakyat menjadi bahasa birokrat. Diksi yang mulanya hanya terdengar di warung kopi dan gang-gang perkampungan, kini tampil di panggung pemerintahan. Transformasi ini menunjukkan bahwa bahasa lokal tidak lagi diposisikan sebagai simbol keterbelakangan. Melainkan modal budaya yang memiliki nilai ekonomi, sosial, sekaligus politik.
Dari sudut epistemologi, mbois mengalami perubahan. Dahulu orang memahami diksi mbois melalui pengalaman sehari-hari. Kini masyarakat mengenalnya melalui media sosial (medsos), baliho Pilkada, festival, logo pemerintahan, kampanye pariwisata, hingga berbagai produk ekonomi kreatif. Pengetahuan mengenai mbois tak lagi diwariskan hanya pada lisan. Tapi juga diproduksi melalui kebijakan publik.
Pandangan ini mengingatkan pada pemikiran Michel Foucault bahwa pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu diproduksi melalui relasi kuasa. Ketika pemerintah menggunakan mbois dalam slogan, festival, hingga identitas pembangunan kota, sesungguhnya Pemkot Malang sedang membangun narasi bahwa menjadi warga Malang berarti menjadi pribadi yang mbois. Berpikir kreatif. Ramah dalam bersikap. Inovatif sekaligus membanggakan daerahnya.
Di sisi yang lain, proses ini menuai tantangan. Ketika diksi lokal masuk ke ruang birokrasi, selalu ada risiko penyempitan makna. Mbois hanya menjadi jargon jika sebatas menjadi dekorasi baliho, tema festival, atau slogan di medsos. Padahal kekuatan sebuah identitas budaya terletak pada praktik keseharian di masyarakat. Bukan pada banyaknya spanduk yang dipasang.
Dalam perspektif aksiologi, pemakaian diksi mbois bukan semata demi melestarikan kosakata lokal. Melainkan menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebab mbois mengajarkan optimisme. Aristoteles menyebut tujuan akhir kehidupan manusia sebagai eudaimonia. Yakni kehidupan yang baik karena dijalani dengan kebajikan.



