Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

FIK UM Perkuat Kompetensi Pelatih Melalui International Workshop Berbasis Sport Science

A
FIK UM menggelar 9th International Conference on Sports Sciences and Health (ICSSH) 2026 pada 21 Oktober 2026
FIK UM menggelar 9th International Conference on Sports Sciences and Health (ICSSH) 2026 pada 21 Oktober 2026

Advertisement

MALANG KOTA, RADAR MALANG — Prestasi olahraga nasional kini tidak lagi sebatas mengandalkan bakat alam dan intensitas latihan fisik, melainkan sangat ditentukan oleh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan (sport science). Penyusunan program latihan yang terukur, pemantauan kondisi fisik, pengelolaan beban latihan, hingga pemenuhan kebutuhan gizi atlet membutuhkan pendekatan ilmiah yang terintegrasi agar pembinaan berjalan optimal.


Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) mengambil peran strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia pembina olahraga. Sebagai lembaga pendidikan tinggi di bidang keolahragaan, FIK UM berkomitmen menjembatani perkembangan riset akademis dengan kebutuhan nyata para pelatih dan praktisi olahraga di lapangan.


Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan International Workshop dalam rangkaian 9th International Conference on Sports Sciences and Health (ICSSH) 2026 pada 21 Oktober 2026. Workshop internasional ini secara khusus berfokus pada peningkatan kompetensi pelatih melalui transfer pengetahuan ilmiah dalam pengembangan atlet muda, metode latihan fisik, serta strategi pemenuhan nutrisi. Untuk memperkaya perspektif, FIK UM menghadirkan pakar internasional dari Australian Strength and Conditioning Association (ASCA), Australia, dan Universiti Malaya, Malaysia.

Advertisement


Ketua Pelaksana ICSSH 2026, Dr. Taufik, S.Pd., M.Or., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab akademisi untuk memastikan inovasi dan teknologi keolahragaan tidak berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah semata.


“Workshop ini merupakan langkah nyata akademisi untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi latihan kepada masyarakat olahraga. Kami berharap pengetahuan yang dibagikan melalui forum internasional ini dapat dimanfaatkan oleh pelatih, praktisi, akademisi, dan berbagai pihak yang terlibat dalam pembinaan olahraga, baik di Jawa Timur maupun di Indonesia,” ujar Taufik.


Ia menambahkan, penguatan olahraga nasional memerlukan sinergi yang erat antara dunia perguruan tinggi dan praktik kepelatihan di lapangan. Riset ilmiah harus mampu diterjemahkan menjadi pendekatan praktis yang membantu pelatih dalam mengambil keputusan, merancang program latihan yang presisi, serta membina talenta atlet secara berkelanjutan.

Advertisement

 

Peserta mengikuti sesi tanya jawab gelaran 9th International Conference on Sports Sciences and Health (ICSSH)
Peserta mengikuti sesi tanya jawab gelaran 9th International Conference on Sports Sciences and Health (ICSSH)

Dalam forum tersebut, Dr. Greg Wilson, Ph.D., pakar dari ASCA Australia, membawakan materi bertajuk "Science-Based Approaches to Youth Athlete Development and Training". Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip Long-Term Athlete Development (LTAD) yang menyesuaikan penahapan beban latihan dengan kesiapan biologis serta tahap perkembangan atlet muda. Pembinaan jangka panjang ini menuntut peningkatan beban secara bertahap dan perhatian khusus pada proses pemulihan (recovery) agar atlet dapat berkembang secara aman dan berkesinambungan.


Sementara itu, narasumber dari Universiti Malaya, Malaysia, Dr. Mohamed Nashrudin Bin Naharudin, memaparkan kalkulasi Basal Metabolic Rate (BMR) dan pemenuhan gizi atlet. Pemahaman tentang kebutuhan energi basal menjadi landasan utama untuk mengestimasi total kebutuhan energi harian atlet dengan memperhitungkan intensitas latihan dan aktivitas harian. Materi ini membuka wawasan pelatih mengenai vitalnya peran nutrisi dalam menunjang performa puncak sekaligus mempercepat masa pemulihan.


Penyampaian kedua materi tersebut mempertegas bahwa pengembangan atlet berprestasi membutuhkan pendekatan holistik. Metode latihan fisik berbasis sains harus berjalan seiring dengan pengelolaan gizi dan pemahaman atas karakteristik individu atlet—prinsip yang sangat krusial baik bagi atlet elite maupun pembinaan atlet usia dini.

Advertisement
Editor : Andika Satria Perdana

Artikel Terkait

Cetak Atlet Muda Tak Cukup Berbakat, Para Ahli Beberkan Pentingnya Gizi hingga Kesehatan Mental

Cetak Atlet Muda Tak Cukup Berbakat, Para Ahli Beberkan Pentingnya Gizi hingga Kesehatan Mental

Pengembangan talenta olahraga anak tidak cukup sekadar mengandalkan bakat alami atau membebani anak dengan porsi latihan fisik yang berat

Wujudkan Kampus Aman dan Dukung SDGs, FIK UM Gandeng Damkar Kota Batu Bentuk "Tim Code Red"

Wujudkan Kampus Aman dan Dukung SDGs, FIK UM Gandeng Damkar Kota Batu Bentuk "Tim Code Red"

Guna menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, tangguh bencana, sekaligus mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri

Pilihan Terbaik Calon Mahasiswa, 4 Prodi di FIK UM Resmi Raih Akreditasi Unggul!

Pilihan Terbaik Calon Mahasiswa, 4 Prodi di FIK UM Resmi Raih Akreditasi Unggul!

Program studi di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) resmi meraih predikat akreditasi Unggul dari lembaga akreditasi nasional.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer