MALANG - Berasal dari kata morotuo atau mertua.
Istilah ini cukup ikonik.
Ciri khas walikan kemudian digunakan hingga muncul istilah aramaut.
Lagi-lagi istilah itu membuktikan bila Arek Malang tak sekadar membalik kata.
Mereka selalu mempertimbangkan pelafalan.
”Intinya istilah khas Malang itu harus enak didengar. Kalau tidak enak, tidak akan dipaksakan,” kata Sejarawan dan Pemerhati Bahasa Malangan Restu Respati.
Aturan tidak tertulis itu hampir dipahami semua orang asli Malang.
Terutama mereka yang sudah berusia di atas 30 tahun.
Istilah dari boso walikan itu juga membuat Malang punya dialek yang lebih bervariasi dibanding daerah lainnya.
Sebab, ada kreativitas di dalamnya.
Contoh lainnya untuk istilah Ayas, yang berasal dari kata ’Saya’.
Arek Malang tidak menggunakan kata dasar ’Aku’, karena kalau dibalik kurang pas pelafalannya.
Wong Malang juga punya istilah Umak.
Itu lebih pas daripada menggunakan kata dasar ’Anda’, ’Panjenengan’, atau ’Sampean’ untuk dibalik. (adk/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana