RADAR MALANG - Sejarah angka dimulai dari kebutuhan dasar manusia yaitu menghitung.
Ribuan tahun lalu, manusia purba menggunakan tally marks atau goresan sederhana pada tulang dan batu untuk merekam jumlah.
Bukti arkeologis seperti Lebombo Bone yang berusia sekitar 42.000 tahun dan Ishango Bone dari 25.000 SM menunjukkan bahwa manusia telah lama memahami konsep numerik, terutama dalam menghitung siklus bulan atau jumlah hewan buruan.
Namun, sistem ini masih primitif dan sulit digunakan dalam skala besar.
Baca Juga: Tiga Bulan, Terima 62 Permohonan Asal Usul Anak di PA Kota Malang
Peradaban kuno kemudian mulai mengembangkan sistem angka yang lebih kompleks.
Bangsa Sumeria di Mesopotamia sekitar 3.000 SM menggunakan simbol berbentuk paku (cuneiform) di tanah liat untuk administrasi perdagangan.
Sementara itu, Mesir Kuno mengembangkan hieroglif numerik, di mana garis lurus mewakili satuan, lengkungan mewakili puluhan, dan gambar manusia melambangkan jutaan.
Meskipun efektif, kedua sistem ini masih membutuhkan banyak simbol dan belum memiliki struktur yang memungkinkan perhitungan matematis yang lebih luas.
Baca Juga: Biasa Ada dalam Kenduri, Ini Filosofi dan Asal-Usul Kue Nagasari
Lompatan besar terjadi dengan munculnya angka Hindu-Arab yang dikembangkan di India sekitar abad ke-2 SM.
Salah satu konsep paling revolusioner dalam sejarah angka adalah nol (śūnya), yang diperkenalkan oleh matematikawan Brahmagupta pada abad ke-5 M.
Tidak seperti sistem angka sebelumnya, angka Hindu-Arab menggunakan notasi posisional, di mana nilai suatu angka bergantung pada posisinya dalam deretan angka.
Konsep ini kemudian menyebar ke dunia Arab melalui karya Al-Khawarizmi yang memperkenalkan aljabar, sebelum akhirnya diterima di Eropa melalui Fibonacci dalam bukunya Liber Abaci pada 1202 M.
Sebelum angka Hindu-Arab mendominasi dunia, peradaban Romawi menggunakan sistem angka berbasis huruf seperti I, V, X, L, C, D, dan M.
Namun, sistem ini memiliki keterbatasan besar, yaitu tidak adanya nol dan kesulitan dalam melakukan perhitungan yang lebih kompleks.
Angka Romawi, meski digunakan dalam berbagai dokumen sejarah, akhirnya kalah efisien dibandingkan sistem desimal yang lebih fleksibel.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan matematika, sistem numerik terus disempurnakan, dari peradaban Maya hingga konsep matematika modern.
Kemunculan sistem komputer bahkan memungkinkan angka bertransformasi menjadi bahasa biner yang menjadi fondasi teknologi digital saat ini. (sai)
Editor : A. Nugroho