SEBAGIAN Besar warga Malang Raya yang besar pada era 1980 hingga 1990-an pasti masih mengenal kata doknyengen.
Istilah itu memiliki arti sikap inkonsisten dalam mengerjakan sebuah pekerjaan.
Kadang serius hingga selesai, kadang malas-malasan dan ditinggalkan.
Makna inkonsisten diambil dari kata dasarnya, yaitu doknyeng.
Kemudian ditambah dengan akhiran ”-en” untuk menegaskannya menjadi kata sifat.
”Nyeng dalam istilah itu bisa diartikan ’ingat’.
Makanya ada yang mengartikan doknyeng itu ’kalau ingat’ dalam hal mengerjakan sesuatu,” terang Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono.
Dalam penggunaannya, kata doknyengen dipakai ketika seseorang akan menegur orang lain yang mengerjakan sesuatu setengah-setengah dan ditinggal di tengah jalan.
Dwi menyebut kata itu sebagai istilah prokem Jawa yang populer di era 1980 sampai 1990-an, termasuk di Malang.
”Daerah lain di wilayah kebudayaan Arekan juga ada yang mengenali kalimat tersebut,” imbuhnya. (biy/fat)
Editor : Aditya Novrian