Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bunuh Diri Sekeluarga di Pakis Malang, Sisakan Satu Anak

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 13 Desember 2023 | 17:32 WIB

 

Inafis Polres Malang mengangkut jenazah korban diduga bunuh diri di Pakis Malang
Inafis Polres Malang mengangkut jenazah korban diduga bunuh diri di Pakis Malang

Korban Dikenal Ramah dan Tidak Punya Masalah Ekonomi

KABUPATEN – Peristiwa tragis terjadi di RT 03/RW 01 Dusun Boro Bugis, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, kemarin pagi (12/10).

Pasangan suami istri mengakhiri hidup di kamar belakang rumahnya menggunakan pisau dan cairan obat nyamuk.

Makin memilukan karena satu putri kembarnya turut diajak menjemput ajal.

Pasangan suami istri itu terdata bernama Wahab Efendi, 44, dan Sulikhah, 40.

Satu putrinya yang diajak bunuh diri berinisial AR, 12.

Sementara yang masih hidup berinisial AK, 12.

AR dan AK merupakan anak kembar identik.

Kasatreskrim Polres Malang AKP Gandha Syah Hidayat menjelaskan, rumah yang ditempati keluarga Wahab memiliki tiga kamar tidur.

Tiga orang ditemukan meninggal di kamar paling belakang.

Saat ditemukan warga, Wahab sebenarnya masih bernapas, namun dalam kondisi lemas.

Dia juga sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong.

Kondisi berbeda terjadi pada Sulikhah dan AR.

Saat ditemukan, keduanya sudah tak bernyawa.

Dari mulut ibu dan anak itu keluar busa dan bau menyengat.

Mirip seperti orang yang keracunan bahan kimia. 

Gandha juga mendapatkan sedikit keterangan tentang kronologi kejadian.

Awalnya, Wahab bersama istrinya tidur di kamar belakang.

Sedangkan putri kembarnya, AK dan AR tidur di kamar tengah.

”Sekitar pukul 03.00 atau sebelum subuh, bapaknya menjemput AR untuk pindah kamar. Sedangkan AK melanjutkan tidur di kamar tengah,” ujarnya.

Tidak jelas jam berapa bunuh diri itu dilakukan.

Polisi hanya mendapat keterangan bahwa AK bangun kesiangan.

Dia bingung karena sudah lewat waktu salat subuh.

AK segera berlari ke kamar belakang, tempat kedua orang tuanya tidur.

AK sudah berusaha mengetuk pintu kamar itu dengan keras.

Tapi tak ada respons dari dalam kamar.

Sekitar pukul 08.15, warga mendengar AK berteriak minta tolong.

Sejumlah warga pun memasuki rumah itu.

Setelah berbincang singkat dengan AK, warga membuka paksa pintu kamar dan menemukan tiga orang tergeletak.

Wahab tampak lemas dengan dua luka sayatan di pergelangan tangan.

Satu sayatan besar, satu lagi sayatan kecil.

Sedangkan Sulikhah dan anaknya AR tergeletak di atas kasur dalam kondisi tidak bernyawa.

Di dalam kamar itu juga ditemukan gelas yang di dalamnya terdapat sisa cairan kimia berbau menyengat.

Ada juga sachet wadah obat nyamuk di dalam keranjang sampah dan pisau yang diduga digunakan untuk menyayat pergelangan tangan.

Ketua RT setempat Iswahyudi menjelaskan, warga datang ke dalam rumah dalam kondisi pintu kamar belakang terkunci.

Setelah berhasil didobrak, terlihat darah berceceran di mana-mana.

Darah itu berasal dari luka di tangan Wahab.

”Sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak terselamatkan,” ujarnya

Saksi lain yang masih memiliki ikatan saudara dengan Sulikhah, Dodik Wokanubun, mengaku shock saat mengetahui kejadian tersebut.

Sebab, selama ini keluarga Wahab terlihat baik-baik saja.

”Ya sering ketemu waktu salat berjamaah,” katanya.

Dodik juga mengenal Wahab sebagai sosok yang ramah.

Apalagi profesinya adalah guru di SD Negeri 3 Sukun Kota Malang.

“Kalau yang istri punya usaha kue. Kalau pagi mengantar anak ke sekolah, setelah itu mengurus usahanya,” terang Dodik.

Keluarga itu sudah mengontrak cukup lama di rumah tersebut.

Dodik sama sekali tidak bisa menduga masalah yang melatarbelakangi bunuh diri Wahab dan keluarganya.

Apalagi keluarga itu relatif tidak memiliki masalah dalam hal ekonomi.

 

Wasiat untuk AK dari orangtuanya yang diduga bunuh diri.
Wasiat untuk AK dari orangtuanya yang diduga bunuh diri.

Tinggalkan Pesan di Kaca Cermin

Sebelum meninggal dunia, salah seorang korban menulis pesan yang diduga ditujukan kepada AK.

Pesan itu ditulis menggunakan spidol hitam di kaca cermin meja rias kamar belakang.

Polisi juga mengabadikan pesan itu sebagai petunjuk.

Isinya sebagai berikut: Kakak jaga diri, Papa, mama, adik pergi dulu. Nurut sama uti, tante, dan om. Uang papa mama untuk pemakaman jadi satu. Love U Kakak.

Kasatreskrim Polres Malang AKP Gandha Syah Hidayat menduga pesan itu ditulis oleh sang ayah.

Sebab gaya tulisan itu mirip dengan tulisan di buku agenda milik Wahab.

Bagi polisi, peristiwa itu masih menyisakan teka-teki.

Utamanya terkait motif bunuh diri dan alasan mengajak salah satu anaknya.

Salah seorang tetangga dekat korban yang enggan disebutkan namanya mengatakan, malam sebelumnya tak terdengar kegaduhan sama sekali.

Karena itu, para tetangga juga masih bingung mengapa keluarga itu nekat mengakhiri hidup.

Apalagi di mata tetangga, keluarga itu terkesan bahagia. (iza/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kabupaten Malang #bunuh diri