Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kota Malang Dilanda 187 Kali Banjir, Meningkat 500 Persen Dibanding sebelumnya

Mahmudan • Senin, 17 November 2025 | 15:51 WIB
Bencana dari Tahun ke Tahun
Bencana dari Tahun ke Tahun

MALANG KOTA – Grafik bencana banjir menunjukkan peningkatan drastis. Dalam kurun tiga tahun terakhir, peningkatannya mencapai 500 persen lebih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengungkap, terhitung Januari hingga pertengahan November 2025 terjadi 187 kali dilanda banjir (selengkapnya baca grafis).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Malang Surya Adhi Nugroho mengatakan, banjir terjadi di berbagai titik. Selama November ini, banjir terjadi di Jalan Bareng Raya IIA, Jalan IR Rais Gang 9, Jalan Raya Bandulan, dan Jalan Kawi Atas.

”Penyebabnya karena sumbatan pada saluran drainase dan hujan dengan intensitas tinggi,” ujar Adhi kemarin (16/11). Selain bencana banjir, BPBD juga mencatat peningkatan pada cuaca ekstrem seperti angin kencang dan tanah longsor.

Akibat bencana tersebut, infrastruktur publik dan infrastruktur milik warga ada yang mengalami kerusakan. Dampak kerusakan paling parah biasanya terlihat saat musim hujan pada awal dan akhir tahun. Misalnya pada Januari sampai Maret.

Selama triwulan pertama 2025 itu, BPBD Kota Malang mencatat kerugian materiil hingga Rp 432 juta. Didominasi kerugian akibat kerusakan berat yang terjadi di 35 titik. ”Kerusakan berat terjadi di rumah, lapisan penguat tebing, fasilitas publik, hingga lembaga pendidikan,” kata pejabat eselon III B Pemkot Malang itu.

Salah satu kerusakan yang baru-baru ini terjadi di Jalan Buring Dalam RT 14 RW 8, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen. Di kawasan tersebut terjadi tanah longsor pada 1 November lalu.

Tanah longsor itu tidak hanya dipengaruhi cuaca ekstrem, tapi juga karena lokasi bangunan di atas aliran sungai, sehingga gampang tergerus air. ”Akibatnya plengsengan saluran atau sungai tidak kuat menahan beban, sehingga terjadi longsor sampai menghanyutkan bagian rumah warga,” kata dia.

Karena maraknya bencana tersebut, pihaknya mengimbau agar masyarakat selalu waspada. Apalagi dari pendataan sementara yang dilakukan BPBD Kota Malang, terdapat 40 kelurahan rawan bencana. ”Jenis bencana yang terjadi di setiap kelurahan ini multi-bencana. Artinya tidak hanya rawan terhadap satu bencana saja,” terang Adhi.

Misalnya saja di Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen. Di sana rawan banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan angin kencang. Untuk banjir, lokasi yang paling rawan berada di Jalan Bareng Raya IIA, Jalan IR Rais, Jalan Kelud, Jalan Bareng Tenes 4A, dan Jalan Bareng Kartini.

Kemudian kawasan di Bareng yang rawan dilanda angin kencang seperti Jalan Kawi, Jalan Taman Gayam, Jalan Gondosuli, Jalan Ijen Nirwana, dan beberapa titik lain. Sementara Jalan Bareng Taman Bunga dengan Jalan Bareng Tengah Gang VD rawan longsor.

Kondisi tersebut membuat 13.465 rumah dan 53.860 jiwa di 40 kelurahan rawan terdampak bencana. Namun data itu baru bersifat analisis spasial atau berdasar lokasi geografis. Sekretaris BPBD Kota Malang Agoes Tri Hartadi menyampaikan, pihaknya rutin melakukan edukasi kebencanaan sebagai upaya mitigasi.

Edukasi dilakukan di lingkungan sekolah sampai perkantoran. ”Selain edukasi, kami juga mengaktifkan kembali kerja bakti untuk mencegah terjadinya banjir,” katanya. ”Banyak saluran atau sungai di Kota Malang yang tersumbat oleh sampah,” tambah Agoes.

Jika bencana sudah melanda, pihaknya membantu menyalurkan bantuan seperti makanan instan dan terpal. Bisa juga rekomendasi agar korban bencana pindah ke lokasi lain yang lebih aman. Rekomendasi baru diturunkan jika tempat tinggal korban tidak di zona merah atau melanggar aturan.

Jika melanggar aturan seperti berada di dekat sempadan sungai, biasanya tidak bisa mendapat bantuan rehabilitasi. Untuk penanganan bencana, pihaknya membutuhkan peralatan yang mendukung.

Salah satunya mobil crane, sehingga BPBD bisa membantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang melakukan perempesan pohon. ”Tapi karena ada efisiensi, kami mengoptimalkan peralatan yang ada seperti perahu berbentuk bulat, tali tampar, dan pompa untuk menyedot air,” imbuh dia.

Upaya mitigasi bencana lain, salah satunya melalui simulasi atau gladi bencana. Kegiatan tersebut dilakukan di Lapangan Amprong Malang pada Sabtu lalu (15/11).  Dalam simulasi tersebut, lintas sektor yang terlibat diajak mempelajari cara evakuasi ketika melihat orang yang terdampak bencana.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menambahkan, mitigasi seperti simulasi penting dilaksanakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. ”Karena Kota Malang sudah berkembang menjadi daerah yang dinamis. Di sisi lain, masyarakat tidak boleh lengah terhadap risiko bencana gempa, banjir, tanah longsor, dan ancaman lainnya,” tegas dia.(mel/dan)

Editor : A. Nugroho
#Banjir #DLH #malang #BPBD