Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Elin Agus Tri Rahayu dan Kholilul Rohman, Pasutri Tunanetra “Penakluk” Gunung

Mardi Sampurno • Rabu, 26 Oktober 2022 | 00:20 WIB
BERNYALI TINGGI: Pasangan suami istri Elin Agus Tri Rahayu dan Kholilul Rohman usai berhasil mendaki di Gunung Buthak, sekitar Oktober 2020 silam. (ELIN AGUS TRI RAHAYU FOR RADAR MALANG)
BERNYALI TINGGI: Pasangan suami istri Elin Agus Tri Rahayu dan Kholilul Rohman usai berhasil mendaki di Gunung Buthak, sekitar Oktober 2020 silam. (ELIN AGUS TRI RAHAYU FOR RADAR MALANG)
 

Keterbatasan fisik berupa gangguan penglihatan tak menyurutkan nyali Elin Agus Tri Rahayu dan Kholilul Rohman menyalurkan hobi mendaki gunung. Sejak 2020, sudah tiga gunung yang telah mereka “taklukkan”. Padahal orang dengan fisik normal saja, belum tentu berani melakukannya.

MEMORI 2007 silam masih diingat Elin Agus Tri Rahayu cukup jelas. Saat itu dia masih remaja berusia 15 tahun. Seperti remaja pada umumnya, segala aktivitas dilakoni dengan normal. Namun semua keceriaan Elin itu berubah 180 derajat. Dua matanya mendadak tak bisa melihat. Pandangan tiba-tiba kabur hingga berakhir gelap, begitu yang dirasakan saat itu. Sedih sudah pasti dirasakan wanita yang kini berusia 30 tahun itu. Sebab perubahan itu membuatnya menjadi tuna netra.

Usut punya usut, kebutaan yang dia alami disebabkan karena glaukoma yang meningkat. Saraf optik atau kelainan pandangan matanya menunjukkan kerusakan. Penyakit yang kerap dijumpai pada sebagian orang berusia 40 tahun ke atas itu sudah dialaminya di usia yang cukup muda. Namun kebutaan itu tak membuat Elin sedih berlarut-larut. Pikirannya hanya satu, harus bangkit yang cukup muda.

Namun kebutaan itu tak membuat Elin sedih berlarut-larut. Pikirannya hanya satu, harus bangkit.

Wanita yang berdomisili di Kelurahan Bandungrejosari, Kelurahan Sukun itu memutuskan mengikuti sejumlah pelatihan. “Saya dimasukkan (kedua orang tua) ke RS Bina Netra Janti, di sana saya belajar olahraga seperti lompat jauh, lari, dan tolak peluru,” kenangnya.

Dari latihan yang dilakukan tiap pekan itu, Elin sempat menjadi atlet Paralympics pada 2014. Saat itu dia mampu menyumbangkan medali emas di Kejuaraan Daerah (Kejurda) cabor lari di Surabaya. Kemudian Kejurda Paralympics pada tahun yang sama, dia berhasil mempersembahkan medali perak dari lompat jauh dan tolak peluru.

Selama di RS Bina Netra itu, Elin punya teman dekat. Yakni Kholilul Rohman. Mereka pun menjalin asmara hingga ke jenjang pernikahan pada 2020 lalu. Ya, selama di RS itulah Kholil kerap menceritakan pengalaman mendaki gunung sebelum penglihatan berkurang.

“Kami punya kesamaan (kebutaan mendadak), tapi suami saya sudah naik gunung dulu. Dia berjanji ingin mengajak saya jika ada kesempatan bisa mendaki gunung,” terang Elin.

Butuh waktu cukup lama bagi Kholil merealisasikan janjinya. Baru pada 2020 lalu, keinginan Elin untuk mendaki gunung bisa terwujud. Elin ditemani sang suami mendaki Gunung Wedon di Lawang. Gunung dengan ketinggian 660 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu mampu ditaklukkan hanya sekitar tiga jam saja.

Untuk pengalaman pertama mendaki gunung, dia tak mengalami kesulitan sama sekali. Elin dan suami dibantu beberapa pemandu dari Lingkar Sosial (Linksos). Selama pendakian berlangsung, dia mengandalkan perasaan atau insting. Untuk merasakan ada batu atau akar pohon saat berjalan, dia andalkan kakinya.

Kemudian kulit dan hidung dia maksimalkan sebagai media perasa perbedaan suhu. Dari situlah, dia bisa membayangkan objek pendakian yang dilewati. Artinya, otak yang bekerja membayangkan perjalanan pendakian menjadi mata pengganti.

Meski seperti halusinasi, Elin cukup nyaman merasakan itu semua. Terutama jika sudah mencapai puncak, Elin merasakan angin bertiup kencang sebagai tanda tujuan berakhir. Di sana, pemandu yang sudah siap menjelaskan objek di dekat puncak. Di sisi lain, Elin tinggal membayangkan.

“Dengan cara itu saya menikmati pendakian, sesekali juga meraba rumput atau daun dan membayangkan saya bisa berjalan sejauh ini,” beber Elin.

Perlengkapan mendaki gunung seperti jaket, tas carrier, dan sepatu sudah dimiliki sendiri. Setelah mendaki Gunung Wedon, Elin ambisius untuk mendaki gunung lagi. Latihan fisik seperti jogging dilakukan tiap Minggu. Bahkan beberapa bulan kemudian dia kembali naik ke dua gunung.

Dua gunung yang memiliki jalur pendakian cukup terjal yakni Gunung Buthak dan Gunung Kawi dipilih sebagai tujuan selanjutnya. Kala itu, dia mendaki gunung di waktu yang cukup menantang. Yakni di musim hujan. Di mana jalur pendakian jadi licin dan becek. Mereka juga sama sekali tidak ada rasa takut meski naik gunung terkadang di sisi kanan kiri jalan ada jurang. “Saya harus hati-hati, yang penting selamat. Serta nggak masalah jika butuh waktu lama,” kata wanita yang pernah mengenyam pendidikan di MA Muhammadiyah itu.

Jika pendaki pada umumnya bisa menempuh perjalanan 3-5 jam, Elin dan suami lebih lamban 1 jam. Meski butuh waktu lebih lama, ada sensasi tersendiri baginya. Terutama merasakan terjalnya jalan sambil membayangkan dalam pikiran.

Jika pemandu bilang di sisi kiri ada jurang, Elin membayangkan jurang yang cukup curam dan menakutkan. Namun dia tak takut. Melainkan senang bisa mendaki gunung sesuai keinginan hatinya.

Ambisi ibu satu anak itu untuk mendaki gunung masih tinggi. Bahkan dia punya rencana untuk mendaki Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 mdpl. Elin berangan-angan bisa mendaki gunung yang pernah dibuat film berjudul 5 Cm itu.

“Saya penasaran, memang butuh tenaga dan mental yang cukup,” papar wanita yang bekerja sebagai tukang pijat itu. Elin mengaku begitu bahagia berhasil mendaki gunung. Suatu kisah yang akhirnya bisa diceritakan, menikmati suasana di gunung meski ketika mewujudkan impian itu kondisi dirinya sudah tidak bisa melihat lagi.

Apa yang dilakukan Elin bisa jadi motivasi untuk orang lain. Bahkan untuk penyandang disabilitas lainnya. “Kami memang harus berani, modal berani dan pengetahuan juga harus imbang,” tutur Elin. (*/abm) Editor : Mardi Sampurno
#hobi mendaki #pendaki tuna netra #pecinta gunung