Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kembangkan Game Edukasi Tentang Kekerasan Anak

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 9 Maret 2023 | 03:00 WIB
TERUS UPDATE: Selain aktif memproduksi game-game edukasi, Chaulina Alfianti Oktavia juga aktif mengajar di STIKI Malang. (Tangkapan layar)
TERUS UPDATE: Selain aktif memproduksi game-game edukasi, Chaulina Alfianti Oktavia juga aktif mengajar di STIKI Malang. (Tangkapan layar)
 

MALANG KOTA - Asalkan ada batasan waktu untuk bermain, Chaulina Afianti Oktavia melihat bila game tak berdampak negatif.

Untuk memenuhi poin itu, peran orang tua cukup penting dalam mendisiplinkan anak. Sebagai orang yang akrab dengan dunia game, dia memang tahu seluk-beluk terkait dunia itu.

Sebab, tak sedikit game yang telah berhasil dia ciptakan. Baginya, game adalah salah satu media untuk mengasah otak.

Di dalamnya juga membuat anak bisa mengatur strategi, dan itu bisa diterapkan dalam dunia nyata.

Agar tujuan itu tercapai, dosen kelahiran 1988 tersebut menyarankan agar masyarakat lebih selektif dalam memilih game.

”Selanjutnya, yang harus ditekankan adalah bagaimana mengatur waktu untuk bermain game,” ucapnya.
Baca Juga : Tim UMM Juara 1 Kompetisi Game PUBG Mobile.

Tidak heran dalam menciptakan permainan-permainan, dirinya selalu memikirkan aspek edukasi yang terkandung di dalamnya.

Saat ini, dia tengah mengembangkan game edukasi tentang kekerasan pada anak usia dini.

Dalam game itu, Chaulina membuat animasi yang mengarahkan anak untuk bisa mengetahui bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain.

Game itu dia ciptakan berkat keresahan atas kasus kekerasan seksual yang marak terjadi akhir-akhir ini. Terutama yang dialami oleh anak-anak.

”Saat ini masih dilakukan update untuk beberapa program terbaru,” ungkapnya.

Menjadi seorang dosen teknik informatika, Chaulina terdidik untuk selalu belajar. Sebab, perkembangan teknologi dan informasi begitu cepat. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Untuk memasarkan game yang sudah dia buat, Chaulina harus mempelajari algoritma media sosial.

”Saat ini kan pemasaran yang paling efektif adalah pemasaran dengan menggunakan media sosial,” ujarnya.

Secara umum, alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu menyebut ada algoritma yang perlu diperhatikan dalam membuat konten.

Sebab, sekalipun kini banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan gadget, tidak semua orang akan betah menonton konten tertentu.

Karena itu, algoritmanya perlu diperhatikan. ”Meski algoritma tersebut juga mudah berubah,” imbuhnya.

Bekal itu lah yang membuat dia juga menjadi trainer konten creator. Selain itu, Chaulina kini juga mengampu mata kuliah musik digital.
Baca Juga : Tim E-Sport UMM Juara Mobile Legend.

Menurutnya, inilah yang membedakan ilmu IT di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia (STIKI) Malang dengan kampus informatika lainnya.

Saat ini, untuk membuat alunan musik tak harus selalu menggunakan alat musik. Bisa juga dengan program atau aplikasi tertentu.

Berbekal keterampilan itu, Chaulina juga aktif membuat instrumen-instrumen untuk backsound di aplikasi Tiktok dan Instagram.

”Semua instrumen itu saya buat tanpa alat musik. Melainkan hanya dengan aplikasi-aplikasi tertentu,” kata dia.

Setidaknya ada enam instrumen yang kini bertengger di opsi musik aplikasi Tiktok buatan Chaulina. Dia banyak membuat instrumen-instrumen tentang tema alam.

Saat kecil, Chaulina memang tertarik dengan informatika. Itu lah yang membuat dia terus belajar dan update perkembangan teknologi.

Dari pengalamannya itu, dia mengatakan bila pengetahuan terkait coding atau proses pembuatan game harus mulai dikenalkan sejak dini.

Tujuannya agar anak-anak tidak menjadi penikmat saja. Melainkan juga bisa menjadi pembuat. (dre/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##beritamalang #radarmalang ##jawaposradarmalang ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini ##radarmalanghariini