Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nayaka Budhidharma, Peraih Medali ASEAN Age Group Chess Championship Thailand 2023

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 28 Juli 2023 | 23:00 WIB
ATLET POTENSIAL: Nayaka Budhidharma memamerkan medali catur yang pernah dia raih dari berbagai kejuaraan internasional.
ATLET POTENSIAL: Nayaka Budhidharma memamerkan medali catur yang pernah dia raih dari berbagai kejuaraan internasional.
Langganan Juara Event Internasional sejak Usia 11 Tahun

Nayaka mulai menggeluti olahraga catur sejak berusia lima tahun. Setahun kemudian dia sudah bisa memenangi kejuaraan tingkat provinsi. Dan sejak usia 11 tahun, bocah asal Bumiayu itu rajin mengumpulkan medali dari kejuaraan internasional.

GALIH R. PRASETYO

PULUHAN medali dan lembaran sertifikat juara catur seolah menyambut wartawan koran ini saat berkunjung ke rumah Nayaka Budhidharma, Rabu lalu (26/7). Ruang tamu rumah yang terletak di kawasan Bumiayu, Kota Malang itu juga dihiasi deretan trofi. Mulai dari yang berukuran kecil sampai besar.

Salah satu yang cukup mencolok adalah sebuah wadah kotak biru dengan tali mirip bendera Thailand. Di dalamnya terdapat medali perak bertuliskan ASEAN Age Group. Itu adalah medali terbaru yang didapat Nayaka dari kejuaraan catur internasional.

Nayaka mendapatkan medali itu setelah bermain bagus untuk kategori catur klasik pada event 21st ASEAN Age Group Chess Championship 2023, Bangkok, Thailand, pada Juni 2023. Selama tampil di ajang tersebut, Nayaka mampu menyisihkan para pecatur dari sejumlah negara.  Seperti China, Thailand, Korea Selatan, Filipina, Australia, India, sampai Jepang.

Atlet berusia 17 tahun itu bahkan harus menghadapi lawan yang memiliki gelar di atas dirinya. Misalnya pecatur dengan gelar Internasional Master (atlet yang sering menjuarai event-event internasional.  Karena itu, alumnus SMPN 5 itu tetap bangga dan legawa saat menempati juara kedua.

”Bersyukur karena dalam tiga kategori catur yang saya ikuti di kejuaraan itu, ada satu yang membuahkan hasil,” paparnya. Saat mengikuti event di Bangkok itu, Nayaka memang bermain di tiga kategori. Yakni catur klasik, catur cepat, sampai kilat.

Keberhasilan Nayaka meraih medali di Thailand jelas tidak melalui perjuangan mudah. Ada kerja keras, keuletan, ketekunan, dan konsistensi untuk mempersiapkan diri. Misalnya, terus berlatih meski tidak ada event yang akan dihadapi. 

Nayaka juga kerap melakukan latihan secara online menghadapi atlet catur dari luar negeri. Di luar itu dia rutin mengasah kemampuan, minimal dua jam dalam sehari. Biasanya dia berlatih saat pulang sekolah dan sesudah subuh. Dua waktu tersebut dipilih agar tidak mengganggu aktivitas pendidikan.

Atlet yang juga pelajar SMAN 3 Kota Malang itu bahkan rajin mengumpulkan data lawan yang akan dihadapi. Itu dia lakukan sebelum menjalani sebuah pertandingan. Memang terkesan sepele, namun cara itu bisa memberikan banyak manfaat. Misalnya mengetahui strategi dan kebiasaan lawan serta menyiapkan antisipasinya.

Manfaat lainnya adalah membuat permainan bisa maksimal. ”Bermain catur itu ada catatan waktunya. Kalau kita tidak mengenal bagaimana permainan lawan, kita akan membuang banyak waktu,” katanya.

Untuk mengenal permainan calon lawan, biasanya Nayaka mempelajarinya melalui rekaman video. Juga menelusuri track record pertandingan calon lawan tersebut. Tim pelatih di tim nasional catur bisanya membantu mengumpulkan data- data seperti itu.

”Karena situasi dunia catur terus berkembang seperti itu, maka saya tidak pernah berhenti berlatih. Sekali malas-malasan akan membuat tertinggal beberapa langkah dari atlet catur lain,” terangnya.

Berkat ketekunan seperti itu, Nayaka sudah bisa mendulang prestasi sejak masih anak-anak. Pada tahun 2012, atau saat berusia 6 tahun, Nayaka sudah mampu menyabet gelar juara tingkat provinsi. Bahkan pada 2013, dia memenangi kejuaraan nasional catur di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, yang diikuti 1.200 peserta.

Tahun itu sebenarnya Nayaka berkesempatan kejuaraan internasional di China. Namun, orang tuanya tidak tega membiarkan Nayaka yang masih bocah itu terbang ke negeri tirai bambu. ”Orang tua saya juga tidak punya biaya kalau harus ikut mendampingi,” kenangnya.

Kesempatan itu akhirnya datang kembali pada 2017 lalu. Nayaka yang kala itu berusia 11 tahun masuk skuad timnas catur untuk bertanding di 18th ASEAN Age Group Open Chess Championship  2017 di Pahang, Malaysia. Dia langsung sukses menyumbang tiga medali. Di antaranya dua emas dari nomor catur cepat dan kilat. Lalu, medali perak dari nomor catur klasik.

Event di Malaysia itu seperti membuka jalan untuk terus bisa tampil pada kejuaraan internasional catur. Misalnya pada 2019, Nayaka menjadi salah satu wakil Indonesia untuk nomor perorangan pada ajang Eastern Asia Youth Chess di  Bangkok, Thailand.  Tiga medali berhasil dia bawa pulang, yakni satu emas dan dua perak.

Setahun kemudian Nayaka menempati posisi tujuh kejuaraan dunia online catur. Kala itu dia menghadapi para pecatur dari seluruh penjuru dunia. Mulai dari Eropa, Asia, sampai Afrika. Lalu, pada 2022 dia meraih mendapatkan medali perak Asia Youth 2022.

Catatan gemilang itu membuat Nayaka diproyeksikan tampil pada beberapa kejuaraan nasional. Di antaranya, Porprov 2023 dan PON Aceh 2024. Lalu, pada Agustus mendatang dia masuk Pelatnas untuk persiapan event catur tingkat Asia tahun depan.

Ketertarikan Nayaka terhadap dunia catur sebenarnya muncul secara tak terduga. Saat berusia lima tahun, dia kerap mengintip ayah dan saudaranya memainkan olahraga tersebut. Tapi, Nayaka kecil selalu menolak untuk diajari. Dia lebih memilih untuk belajar sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Nayaka mengenal pertandingan catur online. Dia menjadi ketagihan bermain lantaran ada poin yang bisa dikumpulkan setiap kali memenangkan pertandingan. ”Padahal saat itu saya hanya belajar otodidak untuk menang. Cari informasi tentang strategi bermain dari Google,” kelakar Nayaka mengakhiri cerita. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#queen gambit #juara catur