Terinspirasi dari Tato, Karya Batik Ichwanul Muzaki Warga Binaan Lapas Malang ini Banyak Dipesan Pelanggan
Yudistira Satya Wira Wicaksana• Jumat, 12 Januari 2024 | 17:44 WIB
JAGO DESAIN: Ichwanul Muzaki membuat desain batik motif koi di blok bimker Lembaga pemasya rakatan (Lapas) Lowokwaru kemarin (11/1).
Terbiasa membuat tato di badan manusia, kini Ichwanul Muzaki menekuni seni batik. Desain batik warga binaan Lapas Lowokwaru itu tak lazim, namun banyak diminati.
JEMARINYA terlihat lincah saat menggoreskan tinta di hamparan kain putih, kemarin (11/1).
Dalam hitungan beberapa menit saja, Ichwanul Muzaki menuntaskan desain batik.
Motifnya terlihat asing bila dikaitkan dengan umumnya seni batik tulis tradisional.
”Ini motif ikan koi. Pesanan dari Kalapas Lowokwaru,” ujar Ichwanul setelah merampungkan desainnya.
Dia merupakan terpidana kasus narkotika.
Mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lowokwaru sejak 2020 lalu.
Pria asal Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu divonis 7 tahun 6 bulan penjara.
Sebelum menjalani hukuman di jeruji besi, pria 31 tahun itu bekerja sebagai tukang cukur tapi punya keterampilan membuat tato.
Keterampilannya itulah yang melatarbelakangi Ichwanul piawai membuat desain.
Ketika mengikuti bimbingan kerja (bimker) di lapas, pelatihnya mengarahkan agar Ichwanul membuat desain batik.
Bimker batik tulis sendiri masih berusia sangat muda, yakni dua bulan.
Awalnya, ide membuka pelatihan kerja muncul setelah Kalapas Lowokwaru Ketut Akbar Herry Achjar berbincang dengan temannya yang juga pengusaha batik.
Yakni Didik Canting Kuning.
Akhirnya Didik Canting dibawa ke blok Bimker Lapas untuk memberikan pelatihan intensif pada warga binaan.
Ichwanul yang juga mengikuti Bimker musik juga bergabung.
”Kebetulan yang diajak waktu itu mereka yang ikut bimker lukis sekaligus memiliki kemampuan menggambar Tato,” kata Ichwanul.
Total ada 18 warga binaan yang ikut pelatihan tersebut.
Selain Ichwanul, ada 10 orang lain yang bertugas membuat desain motif batik.
Sisanya 7 orang mencanting dan ngemal atau mentransfer desain ke cetakan kain.
Namun Ichwanul memiliki corak tersendiri.
Jika yang lain lebih banyak menggambar bunga-bunga, ia lebih ke desain oriental.
”Lebih ke Jejepangan. Ada yang gambar pagoda, ikan koi. Ada juga yang tato ala Yakuza,” kata dia.
Itulah yang membuat desainnya lebih dilirik pemesan.
Sampai sekarang, ada empat motif yang sudah dia buat.
Sedangkan lainnya dua sampai tiga, menyesuaikan expertise (kemampuan) masing-masing.
Kemampuan menggambar khas motif tato dia dapatkan tahun 2019 lalu, ketika merantau ke Bali.
Mulanya, ia ikut teman yang punya studio tato di Kota Malang.
Karena kekurangan modal, ia dan temannya melenggang ke pulau Dewata mencari partner bisnis.
Tapi setelah di Bali selama dua bulan, ia mendapat pelatihan menggambar tato dengan suntikan khusus.
Karena banyak yang request tema-tema oriental, selama waktu itu ia mengerjakan tema tersebut.
”Sejak kecil saya suka duduk di teras sambil membawa kertas dan pensil untuk menggambar,” kata Ichwanul yang mempunyai tato di leher dan tangan itu.
Sayangnya tahun 2020 lalu ia kena musibah.
Terjerat kasus narkotika, sehingga dijebloskan ke penjara.
Selama berada di lapas, Ichwanul mengikuti sejumlah bimker.
Mulai dari musik, potong rambut, sablon kaos, dan terakhir batik tulis.
Kini sudah ada balasan pesanan.
Satu karya dijual dengan harga Rp 700 ribu.
Bisa berupa satu helai kain, bisa sudah menjadi sebuah pakaian.
Karya Ichwanul beserta yang lainnya dinamakan ’Batik Tulis Lowokwaru’.
Pihak lapas sedang mendaftarkan hak paten untuk karya-karya mereka. Setelah keluar dari lapas, dia berencana membuka usaha clothing di sekitar Sumbersari. (*/dan)