Menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) bukan pengalaman pertama bagi VR, 31.
Anak ketiga dari lima bersaudara itu sudah memiliki pengalaman menjadi TKW di Taiwan sejak 2020.
Saat itu, dia berangkat melalui salah satu PJTKI di Jakarta.
Di Taiwan, dia mendapat gaji setara Rp 9 juta per bulan.
Setelah tiga tahun mengais rezeki di negeri orang, masa kontraknya habis.
Perempuan asal Palembang itu akhirnya kembali dan memilih tinggal bersama suaminya di Malang.
Singkat cerita, pada bulan Oktober 2023 lalu, dia mendapat tawaran dari temannya untuk menjadi TKW lagi.
Tanpa pertimbangan panjang, dia akhirnya menjajal peruntungan di Balai Latihan Kerja-Luar Negeri Central Karya Semesta (BLK-LN CKS), Jalan Rajasa, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
Layaknya calon TKW lainnya, dia harus mengikuti pelatihan di tempat penampungan.
Itu membuat VR harus berjarak dengan R, putrinya yang masih berusia 2,5 tahun.
VR biasanya menghubungi salah seorang kerabat.
Kerabat sekaligus sepupu suaminya itulah yang kini merawat R.
”Kalau telepon dia suka panggil nda, nda, nda (bunda, red),” kata dia.
R terpaksa diasuh kerabatnya.
Sebab, suaminya juga bekerja di luar daerah.
Tepatnya di Batam.
Pilihan VR untuk kembali menjadi TKW sebenarnya sudah ditentang keluarga besarnya di Palembang.
”Tetapi saya bujuk terus karena kondisi ekonomi di sini (Malang) kurang,” terang dia.
Pertama kali menginjakkan kaki di BLK-LN yang terletak di Jalan Rajasa itu, VR awalnya mendapat perlakuan baik.
Seiring berjalannya waktu, peraturan yang diterapkan pengelola semakin ketat.
Misalnya saja, dalam jadwal sehari-hari.
Pada pukul 04.00, dia dan lebih dari 100 calon TKW lainnya harus bangun untuk beribadah dan mandi.
Dilanjutkan piket dan sarapan pukul 05.30.
Kemudian, mereka diwajibkan absen dan senam pukul 06.30.
Lalu, ada jadwal belajar mulai pukul 08.00 sampai 12.00.
Yang mereka pelajari adalah bahasa sesuai negara tujuan.
Yakni Singapura, Jepang, dan Malaysia.
Setelah belajar, mereka diberi waktu istirahat selama satu jam.
Belajar kembali dilanjutkan pukul 13.00 sampai 16.00.
Yang membuat VR terbebani adalah padatnya materi belajar.
Ditambah lagi, calon TKW tidak diizinkan keluar dari area BLK-LN CKS Malang kecuali untuk berobat.
Bahkan, untuk sekadar memegang ponsel, mereka hanya diberi waktu mulai pukul 17.00 sampai 22.00.
”Sangat berbeda dengan perusahaan di Jakarta. Lebih bebas dan boleh keluar asrama,” kata dia.
Selain tertekan dengan aturan yang berlaku, VR masih harus menunggu sampai mendapat majikan di luar negeri.
Dia sempat menjalani wawancara dengan calon majikan di luar negeri sebanyak delapan kali.
Namun tak kunjung berangkat.
Agar bisa segera berangkat, VR memilih negara terdekat, yakni Singapura.
Dia berangkat ke sana pada 13 Desember 2023.
Sayangnya, angan-angan VR untuk memperoleh penghasilan layak pupus.
Di Singapura, dia hanya bertahan sampai awal Februari 2024.
Itu setelah dia mendapat perlakuan yang kurang baik dari majikan dan agensi yang menaunginya.
Selama di Singapura, jadwal VR lebih padat dibanding saat di BLK-LN CKS Malang.
Setiap hari, dia harus bangun tepat pukul 06.00.
Tidak boleh terlambat meski hanya lima menit.
Belum lagi, dia harus mengurus seluruh bagian rumah milik majikannya.
Termasuk mencuci mobil hingga mengantar anak-anak majikannya pergi les.
Untuk makan, VR dijatah dua gelas takar beras yang digunakan selama beberapa hari.
Kalau masih lapar, terkadang dia memakan mie instan.
Akibatnya, berat badan VR yang semula 64 kilogram turun drastis menjadi 50 kilogram.
”Saya jadi stres sampai sempat terpikir bunuh diri,” terangnya.
Tidak tahan dengan kondisi itu, dia kabur ke KBRI Singapura.
Di sana dia menceritakan pengalaman yang dirasakan.
Oleh pihak KBRI Singapura, VR diminta memilih.
Kembali pulang atau mencari majikan baru.
Namun, dia tidak ingin kondisi yang sama terulang, sehingga memutuskan kembali ke tanah air pada 4 Februari 2024.
Saat berada di bandara, VR masih menerima perlakuan yang tidak baik dari pihak BLK-LN CKS yang menjemputnya.
Itu berlangsung hingga dia tiba di Bandara Juanda.
Semua barang milik VR seperti ponsel disita.
Ponselnya baru dikembalikan tiga hari kemudian dalam kondisi sudah di-reset ulang.
Tak hanya itu, VR juga diminta membayar biaya Rp 33 juta tanpa alasan yang jelas.
”Saya baru menghubungi dan bercerita ke suami saat berhasil keluar,” terangnya.
Hingga sekarang dia masih belum bercerita ke keluarganya di Palembang.
Terutama kepada ibunya.
Dia khawatir ceritanya akan membuat kesehatan sang ibu terganggu.
Sama seperti VR, M, 36, juga berharap bisa bekerja di luar negeri tanpa menunggu waktu lama.
Sebab, perempuan asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu pernah bekerja di Brunei Darussalam melalui salah satu PJTKI di Jakarta.
Dia dikontrak selama tiga tahun.
Namun, karena gajinya hanya Rp 3 juta per bulan, M memutuskan pindah setelah disarankan temannya.
Dia mengaku nominal gaji itu tidak cukup karena dia hanya bisa mengirimkan sebesar Rp 2,5 juta untuk keluarganya.
”Kalau majikan di sana alhamdulillah baik. Saya dapat majikan orang Melayu asli, tapi gajinya sedikit,” sebutnya.
Di samping itu, beban kerjanya tidak setiap hari.
Pekerjaannya yang dilakukan M pun hanya bersih-bersih dan menjaga kakek sang majikan.
M akhirnya mencoba bergabung di BLK-LN CKS Malang karena alasan ekonomi.
Dia punya dua anak yang berusia 16 tahun dan 10 tahun yang harus dinafkahi setelah bercerai dengan sang suami.
Ditambah lagi ada ibu kandung yang masih tinggal bersamanya.
Sayangnya, sejak Oktober 2023, M tak kunjung mendapat kejelasan berangkat ke luar negeri.
Selama di BLK-LN CKS Malang, dia mengaku mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari pendamping asrama.
”Saya juga diminta membayar Rp 17 juta. Alasannya karena paspor saya ganda,” ucapnya.
Besaran tagihan yang diminta pun belum bisa dipenuhi M.
Apalagi, kedua anaknya belum bekerja.
Karena itu, dia ikut memutuskan kabur pada 14 Februari lalu.
M kini ingin kembali ke NTB.
Namun, sampai sekarang dia bersama rekan-rekannya masih menunggu persoalannya dengan BLK-LN CKS Malang selesai.
Untuk mengobati rindu dengan keluarganya, dia biasa menghubungi anak-anaknya yang dititipkan ke sang ibu.
Meski tidak bercerita detail soal kondisinya di Malang, putri bungsunya kerap meminta M untuk segera pulang.
”Kadang dia curhat dijahili kakak laki-lakinya. Kalau kakaknya malah hanya mau di-chat saja. Mungkin kalau saya telepon takut menangis,” tambah dia. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana