INTONASINYA pelan, tapi bicaranya sudah lancar.
Tak ada tanda-tanda kesulitan bicara, meski dua bulan sebelumnya bibir bawah bagian kiri robek akibat serangan lawan.
Pada 17-18 Februari lalu, Bagas Aditya Firmandail mengikuti kejuaraan Bela Diri Super Fight SLC Cup 2024 Road to Thailand Rules Kyokushinkai, Rules Muaythai, dan Rules K1 Karate di Surabaya.
Baca Juga: Olahraga sebagai Industri Masa Depan
Atlet Muay Thai asal Bumi Arema itu memperebutkan gelar juara satu.
Sebelumnya, dia berhasil mengalahkan beberapa lawannya, sehingga menembus babak final.
”Ada empat jahitan di bibir bawah sebelah kiri,” ujar Bagas dalam wawancara di kontainer kafe area Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kemarin.
Luka robek sepanjang 5 centimeter itu akibat serangan lawan di ronde pertama pada babak final.
Mulanya, Bagas ingin menghindari serangan lawan dengan cara membungkuk.
Namun antisipasinya terlalu cepat, sehingga lawannya berhasil menarik kepala dia, lantas mengenai lutut.
”Kalau sudah begitu, gampang blank,” ucapnya.
Awalnya dia tak menyadari bahwa bibirnya robek.
Dia sempat merasa ada cairan yang merambat keluar dari mulutnya.
“Setelah saya usap dengan tangan, ternyata darah,” kenangnya.
Seperti yang pernah dia alami dalam pertandingan sebelumnya, rasa sakit tak dia rasakan.
Bahkan pada saat menyadari mulutnya terluka, dia masih bersemangat melanjutkan pertandingan.
Tapi pelatihnya tidak tega, sehingga melemparkan handuk sebagai simbol menyerah.
Padahal Bagas merasa masih mampu bertahan hingga ronde tiga.
“Apalagi waktu itu masih ronde pertama,” terang atlet berusia 21 tahun itu.
Karena salah satu pihak melempar handuk, wasit pun menghentikan pertandingan.
Bagas harus puas dengan juara dua muay thai tingkat nasional.
Meski begitu, prestasi tersebut sudah membanggakan.
Sebab sebelumnya dia sempat vakum dua tahun.
Apalagi kejuaraan yang diikutinya termasuk kategori open alias bisa diikuti atlet profesional dan pemula.
Kebetulan lawan Bagas merupakan atlet profesional dari Surabaya.
Sehingga dia mafhum jika kalah.
Remaja kelahiran 7 Februari 2003 itu terjun ke dalam olahraga muay thai sejak duduk di bangku kelas XI SMA.
“Akhir kelas XII saya mulai ikut pertandingan lomba,” kata dia.
Memilih menggeluti muay thai bukan tanpa alasan.
Semasa kecil dia merasa nakal dan kerap terlibat dalam pertengkaran.
Muay thai akhirnya dipilih untuk menyalurkan energinya yang berlebih itu.
Sejak kecil, dia memang suka bela diri.
Tapi sang Ayah selalu melarangnya.
Itu karena sang ayah tidak ingin anaknya cedera, bahkan patah tulang saat latihan.
Alasan Bagas menyukai bela diri karena dia ingin menjaga kesehatan, sekaligus postur tubuh agar ideal.
Itu tak lepas dari keinginan masuk POLRI.
“Ayah saya POLRI. Jadi ingin menjaga fisik saya aja waktu itu,” ucapnya.
Kala itu, dia sempat mengikuti tes sebanyak tiga kali.
Namun hasilnya nihil.
Itulah yang akhirnya membuatnya stres dan sempat menarik diri dari rutinitasnya berlatih muay thai.
Kendati begitu, di saat yang bersamaan putra sulung dari tiga bersaudara tersebut memilih melanjutkan kuliah.
Hingga akhirnya kembali aktif muay thai pada semester empat.
Tentu Bagas mendapat tantangan lebih banyak ketika memutuskan kembali.
Mulai dari mengulang semua teknik pukulan hingga permasalahan berat badan.
Saat mengikuti pertandingan di Surabaya dua bulan lalu, Bagas masuk dalam kategori berat 80 kilogram.
Tap karena berat badannya mencapai 90 kilogram, dia rutin berlatih.
Juga harus menjalani diet ketat.
Tujuannya untuk menurunkan berat badannya agar berada di angka 80 kilogram.
”Waktu itu saya harus mengurangi berat badan saya 10 kilogram,” imbuhnya.
Sejauh ini ada tiga kejuaraan yang membuat Bagas bangga.
Yakni kejuaraan multisport even di Batu pada 2021 lalu dan Kejuaraan Piala Bupati Blitar pada tahun yang sama.
Dalam dua kejuaraan itu Bagas mampu meraih juara I. (*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana