Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Karya Seniman Malang Jadi Langganan Clothing Brand di Amerika Serikat

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 3 Juli 2024 | 18:59 WIB
BUAH KETEKUNAN: Toha Mashudi menunjukkan salah satu gambarnya, kemarin. Selalu ada ikon tengkorak di dalam karyanya.
BUAH KETEKUNAN: Toha Mashudi menunjukkan salah satu gambarnya, kemarin. Selalu ada ikon tengkorak di dalam karyanya.

Ketakutan terhadap hantu menjadi inspirasi terbesar Toha Mashudi dalam menghasilkan gambar bergenre dark art. Memulai karier sebagai seniman airbrush, kini karya-karyanya banyak diminati warga luar negeri. Sejumlah band metal pernah menggunakan jasanya.

RORI DINANDA BESTARI

RATUSAN karya berupa gambar di lembaran kertas tertumpuk di etalase ruang tamu rumah Toha Mashudi, di Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Di pojok ruangan ada meja lukis berbahan kayu dan dilengkapi lampu kerja.

Meja itulah yang biasa menemani dia dalam membuat karya.

Pria yang akrab disapa Ahot itu lantas menunjukkan koleksi terbarunya di buku gambar berukuran A4.

 ”Ini baru saya gambar tadi,” terang dia saat ditemui, kemarin (2/7).

Koleksi lainnya dituangkan dalam kertas berukuran A3.

Tiap lembar terbungkus plastik.

Sebagai seorang seniman beraliran dark art, hasil tangannya sangat detail.

Dia biasa menggunakan kertas canson dan drawing pen untuk menghasilkan karya-karya itu.

Inspirasi Ahot dalam berkarya ternyata tak tumbuh begitu saja.

Semua dia dapatkan ketika mengeksplorasi film horor.

”Ketakutan melihat hantu malah jadi sumber inspirasi terbesar saya,” jelas dia.

Dari situlah dirinya mulai mendalami aliran surealisme.

Ahot selalu memadukan ikon tengkorak dengan ikon-ikon alam.

Misalnya akar pohon.

Tengkorak yang dipadukan dengan akar pohon memiliki definisi tersendiri.

”Akar itu sifatnya mencengkeram kuat ke bumi, kehidupan juga seperti itu seharusnya,” ujar dia.

Karya lain yang menjadi favoritnya yakni perpaduan tengkorak dan madu.

Maknanya memadukan isi kepala yang penuh dengan ide-ide menarik.

Salah satu kesulitannya dalam berkarya yakni menentukan judul.

Karena itu, hampir semua karyanya tak berjudul.

Perjalanan karier Ahot di dunia dark art tidak berjalan mudah.

Aliran seni yang dia tekuni sempat ditentang ayahnya.

Bahkan saat memajang gambar tengkorak di kamar, ayah Ahot mencopot semua lukisannya.

”Saya pernah gambar juga di pintu, sampai ayah saya marah dan merusak pintunya,” kata dia.

 Maklum, dulu tak banyak yang melirik aliran seni itu.

Jadinya dianggap tidak benar. Karena dulu belum banyak yang melirik karyanya, Ahot sempat kesulitan dalam menghasilkan pendapatan.

Dia sempat memutuskan untuk bekerja di Pabrik Gula Krebet saat masih berusia 15 tahun.

Meski hanya lulusan SMP, mimpinya tak pernah berhenti.

Dia tetap mencuri waktu untuk menggambar dengan keterbatasan yang dia miliki.

”Saya belajar gambar di bungkus rokok, karena tidak punya biaya untuk beli alat,” papar ayah dua anak tersebut.

Setiap pekan, Ahot selalu mampir ke toko buku untuk membaca buku tentang seni.

Kadang, dia juga mengumpulkan sobekan majalah seni untuk dipelajari.

”Karena terlalu lama baca di toko, saya kadang sampai diusir juga,” cerita dia.

Sobekan itu sempat dia kliping dan terus disimpan sampai saat ini.

Enam tahun kemudian, dia memutuskan untuk merantau ke Bali.

Di sana dia bekerja sebagai seniman airbrush.

Ahot bekerja untuk menggambar di bak truk, reklame hingga desain di tembok.

Pada 2016, dia kembali ke Malang dan melanjutkan menjadi seorang seniman airbrush dan mulai mendalami dark art.

Sudah ribuan karya yang dia hasilkan.

Awalnya, Ahot tak menyangka bila karyanya bisa menghasilkan uang.

Sebab, menggambar hanya sekadar hobi baginya.

Hingga pada akhirnya, ada salah satu clothing brand di Malang memesan desain kepadanya.

Dari situlah dia mulai membuat akun media sosial untuk menawarkan karya-karyanya.

Dia turut dibantu sang istri.

Hingga setahun kemudian, karyanya mulai dilirik customer dari mancanegara.

”Saat itu saya bingung ketika menerima orderan pertama saya dari Amerika,” ucap dia.

Dia berniat menjualnya dengan harga 150 dollar, namun customer-nya malah membelinya dengan harga 250 dollar.

Sejak saat itu, pengikut Ahot di media sosial semakin bertambah.

Kini sudah tembus hingga 83 ribu followers.

Dari situlah orderan mancanegara mulai bermunculan.

Dia bahkan sempat diminta untuk mendesain salah satu clothing brand dari California, Amerika Serikat, Sullen Clothing.

Kini brand itu sudah menjadi pelanggan tetapnya.

Sudah ada sekitar 23 karya yang di-order Sullen Clothing.

Bandband metal juga mulai melirik karya-karya Ahot.

Seperti Mastodon, Inferi, Death Saves, Arch Enemy, Equilibrium hingga Exmortus.

Bahkan, Joe Manganiello, mantan pemeran Spider Man pernah mengorder hasil karyanya.

Kini, sudah ada sekitar 300 karya yang dibeli customer dari luar negeri.

Karya yang dia jual dibanderol dengan harga 350 hingga 550 dollar.

”Sebulan setidaknya ada 3 hingga 4 karya saya yang terjual,” kata dia.

Ahot juga kerap diundang untuk memamerkan hasil karyanya di berbagai event.

”Target saya ingin buat galeri sendiri, biar karya saya bisa dinikmati banyak orang,” harap pria kelahiran 1974 itu. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#amerika serikat #seniman #brand #Karya #langganan #malang #clothing