Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah jadi salah satu orang Yaman yang pertama tinggal di Embong Arab. Selain berdagang, beliau juga melakukan dakwah dengan mengisi kajian-kajian Islam.
NABILA AMELIA
HIJRAH dari tanah kelahiran sudah menjadi budaya bagi keturunan Hadramaut.
Komunitas masyarakat yang tinggal di sebuah lembah di negara Yaman itu sudah melakukan perjalanan ke berbagai negara.
Termasuk ke Indonesia.
Di Indonesia, mereka berdagang hingga menetap di daerah tertentu.
Dari jurnal berjudul Pengaruh Permukiman Embong Arab dalam Perkembangan Kebudayaan Arab di Malang yang disusun Wahyuadi Setyaningtyas bersama tim, diketahui ada beberapa daerah yang sempat ditinggali keturunan Hadramaut.
Mulai Cirebon, Sura baya, Bogor, Surakarta, Palembang, Lombok, hingga Malang.
Di sana mereka berbaur dengan masyarakat lokal.
Tak hanya berbaur bersama masyarakat, keberadaan keturunan Hadra maut juga berkembang menjadi permukiman, yang dikenal dengan nama Embong Arab.
Menurut Nashoih dan Ashoumi dalam jurnalnya yang berjudul Fitur-Fitur Khas Penggunaan Bahasa Arab dalam Komunikasi Masyarakat Arab di Embong Arab Malang, diketahui bila permukiman Embong Arab mulai berkembang sejak akhir abad ke-19.
Sembari berdagang, keturunan Hadramaut juga berdakwah.
Salah satunya adalah Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah.
Sebelum tahun 1930, Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah mela kukan perjalanan dari Yaman menuju Indonesia.
Perjalanan itu ditempuh menggunakan kapal selama 15 hari.
Tidak ada tujuan khusus ke mana dia akan berlabuh.
Namun saat tiba di Surabaya, Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah ditolak masuk.
Dia akhirnya bertolak menuju ke Kecamatan Singosari, Ka bupaten Malang.
Di sana dia berdagang segala jenis kebu tuhan rumah tangga.
Di sela sela menjual kebutuhan rumah tangga, Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah juga kerap mengajari masyarakat membaca Alquran hingga me ngisi kajian agama Islam.
Karena dakwah yang dilaku kan, Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah memiliki banyak pengikut.
Baik dari Kecamatan Singosari maupun wilayah lainnya.
Dengan bertambahnya pengikut, pemerintah Belanda memberinya tawaran untuk tinggal di Embong Arab atau yang sekarang dikenal dengan Jalan Syarif Alqodri, Kecamatan Klojen.
Kendati demikian, Habib Muhammad bin Ali Maulad dawilah masih sering kembali ke Yaman untuk berziarah ke makam Nabi Hud AS.
Itu dilakukan setiap satu tahun sekali.
Saat kembali ke Malang, dia kerap membawa orang-orang dari Hadramaut dan Tarim yang ingin ikut berdakwah di Jawa, tapi tak memiliki biaya.
Selain Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah, masih ada orang-orang Arab lainnya yang berdagang sambil menjalankan misi dakwah.
Salah satunya adalah Salim Kuddeh.
Dari cerita sang cucu yang bernama Afifi Saleh Kuddeh, kakeknya dulu tinggal di Yaman.
”Saya tidak ingat tahun berapa, tapi beliau pergi ke Indonesia sebelum kemerdekaan,” kata pemilik Toko Mebel Niaga tersebut.
Saat tiba di Indonesia, Salim tidak langsung pergi ke Malang.
Salim terlebih dulu sampai di Ambon.
Dia menikah dengan perempuan Ambon lalu membawanya ke Malang.
Afifi memperkirakan, kakek dan neneknya tiba di Malang sekitar tahun 1916.
Dia menjadi penyedia mebel sembari menyebarkan agama Islam.
Penyebaran yang dilakukan Salim tidak berbeda.
Semasa hidup, Salim banyak berinteraksi dengan masyarakat lokal dan mengajarkan ajaran Islam yang diketahuinya.
Seperti salat, pengamalan akidah, hingga membaca Alquran. Kemudian, terjadi percampuran bahasa.
”Kalau saya tidak menguasai betul. Hanya mengerti sedikit, sehingga komunikasi dengan bahasa cam puran,” terang Afifi.
Tak hanya berdakwah, pada masa kemerdekaan beberapa orang Arab juga turut membantu pemerintah dalam melawan Belanda.
Itu dilakukan melalui gerakan Pramuka. Sampai sekarang, tradisi tradisi Islam masih dijalankan oleh warga di Embong Arab.
Misalnya saja sembahyang bersama di Masjid Al-Huda.
Termasuk saat Ramadan, warga keturunan Arab maupun lokal akan melakukan Tarawih dan mengaji.
Saat Lebaran, warga keturunan Arab biasanya akan mengadakan silaturahmi.
Umum nya itu dilakukan satu hari setelah Lebaran.
”Silaturahmi tidak hanya bersama keturunan Arab di Embong Arab. Yang tinggal di belakang Masjid Jami’ juga ikut ke sini. Kami makan lontong dan jenang Arab bersama,” cerita lelaki yang sudah tinggal di Embong Arab sejak 1955 tersebut.
Selain tradisi, ada peninggalan Islam lain yang masih berdiri kokoh di Embong Arab.
Peninggalan tersebut adalah Masjid Al-Huda.
Lokasinya berada di tengah-tengah permukiman dan pertokoan.
Meski ada di Embong Arab, pembangunan Masjid Al-Huda berasal dari wakaf orang Blitar.
Orang tersebut bernama Muhammad Saleh.
”Sampai sekarang tidak ada yang tahu wujud Muhammad Saleh,” ungkap Bendahara Masjid Al-Huda yang bernama Ali Al Hamid.
Menurut sejarah, Masjid Al Huda sudah ada sejak 100 tahun lalu.
Semula, masjid tersebut berukuran kecil.
Kemudian dilakukan renovasi sebanyak dua kali.
Renovasi kedua berlangsung sekitar tahun 2020.
Ali sendiri juga keturunan Yaman.
Dia pindah dari Bondowoso ke Malang pada tahun 1956.
Saat pindah ke Malang, kondisi jalan di Embong Arab masih kecil.
Selain itu, warga yang ada di Embong Arab tak hanya berasal dari komunitas Muslim.
Sebagian ada orang orang lokal dan etnis Tionghoa.
Kondisi percampuran budaya antara keturunan Arab dengan komunitas lainnya masih berlangsung sampai sekarang.
”Semua tetap rukun,” tandas Ali. (*/by)
Editor : A. Nugroho