MALANG KOTA – Ratusan seniman jaranan unjuk kebolehan dalam festival jaranan di Taman Krida Budaya Jatim (TKBJ) kemarin (7/5). Total ada 36 kelompok seniman yang beratraksi, masing-masing kelompok beranggota sekitar 20 orang.
Salah satu kelompok seniman yang tampil adalah Rogo Joyo Rejo dari Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Mereka menyuguhkan cerita tentang perang antara Barong dan Celeng. Dalam perang tersebut, Prajurit Gajayana yang hendak menuju Kerajaan Singosari dihadang oleh Barong. Akibatnya, prajurit mengalami kesulitan sana.
Ketua Kelompok Rogo Joyo Rejo Supadi mengatakan, pihaknya mengirimkan 12 seniman sebagai perwakilan. Rata-rata masih berstatus pelajar SMA.”Alhamdulillah, kegiatan seperti ini bagus dan banyak yang senang,” kata Supadi.
Pihaknya sering tampil di berbagai kegiatan, termasuk Festival Jaranan Agung 1.000 Banteng dan Reog Ponorogo di depan Alun-Alun Tugu, beberapa waktu lalu. Jenis yang ditampilkan pun beragam. ”Kami pernah menampilkan barong, jaran dhor, bantengan, dan topeng Malangan,” terang pria yang menekuni jaranan sejak 1985 itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi menambahkan, pihaknya akan terus melestarikan kesenian jaranan. Salah satunya dengan menggelar Festival Jaranan. Rencananya, kegiatan seperti ini akan tetap digelar rutin.
Menurut dia, kegiatan ini juga sekaligus membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. ”Dalam kegiatan ini, kami menggunakan konsumsi dari UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Kemudian mereka yang datang menonton ke sini menggunakan transportasi umum. Jadi saling bergulir,” terang Baihaqi.
Di akhir acara, ada sembilan kelompok yang mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Lebih lanjut, jika ada kegiatan besar mereka akan diikutsertakan. Demikian pula dengan kelompok lain yang akan mendapat pembinaan dan kesempatan tampil. ”Jadi, pelestarian budaya yang dilakukan tidak terputus dan akan semakin terpelihara,” lanjut dia.
Wali Kota Malang Sutiaji hadir dalam festival jaranan tersebut meminta agar kegiatan budaya dilakukan minimal seminggu sekali. Sehingga budaya khas Kota Malang bisa go international. ”Mereka bisa tampil di tempat seperti Kajoetangan Heritage,” pungkasnya.(mel/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana