TUMPANG - Candi Jago di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang mulai dipugar. Pemugaran yang dimulai sejak 29 Mei lalu akan melalui tiga tahap. Setiap tahap diperkirakan membutuhkan waktu setahun, sehingga totalnya tiga tahun.
Juru Pelihara Candi Jago Imam Pinarko menyampaikan, pengerjaan tahap pertama ditarget tuntas pada Desember depan. “Tahap pertama ini, yang dipugar adalah selasar bagian bawah dengan tinggi sekitar empat meter,” ujarnya ditemui kemarin (20/6).
Pemugaran dilakukan untuk mengembalikan bentuk asli candi. Selain itu, dia melanjutkan, seiring bertambahnya waktu, banyak batuan yang lepas dan rusak. Sehingga perlu diganti untuk menjaga struktur candi tidak berubah.
Jika batuan yang asli terdapat relief atau ukiran, maka akan diganti dengan batuan polos. Supaya dapat terlihat perbedaan antara batuan yang asli dan pengganti. Kemudian susunan batuan yang sebelumnya tidak rapi juga akan dirapikan.
Pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan kemarin, batu-batu yang terletak di struktur bagian bawah candi sudah banyak dibongkar oleh pekerja. Setiap batu ditandai sesuai urutannya. Hal itu untuk mempermudah saat akan memasang kembali. “Bagian-bagian candi ini seperti puzzle. Setiap bagiannya akan saling mengunci,” kata Imam yang merangkap Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI itu.
Dalam proses pemugaran, Imam menyebut, pihaknya menemukan tumpukan batu cadas yang sudah lapuk. Sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut dari Tim Ahli Borobudur. Hal itu untuk menentukan batu cadas tersebut dapat diganti dengan batuan lain atau tetap dipertahankan.
Dari proses pemugaran itu juga diketahui bahwa ada batuan tambahan yang diduga berasal dari era Kerajaan Majapahit. Itu ditunjukkan dengan banyaknya relief Dewata Nawasanga pada Surya Majapahit yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit. Struktur batuan tersebut tidak saling berkaitan seperti batuan-batuan Candi Jago yang asli. (yun/dan).
Editor : A. Nugroho