JAKARTA - Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri menyelenggarakan pelatihan Ante Mortem Disaster Victim Identification (DVI) di Swissbell Hotel, Kalibata, Jakarta. Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti 38 peserta dari berbagai satuan kerja di Jakarta.
Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan personel Polri dalam pengumpulan data Ante Mortem, yaitu data korban sebelum meninggal, yang menjadi salah satu tahap penting dalam operasi DVI. Outputnya adalah peningkatan kompetensi teknis para petugas kedokteran dan kesehatan kepolisian, sehingga lebih siap dalam penanganan identifikasi korban bencana maupun kecelakaan massal.
Kegiatan itu menjadi bagian dari implementasi Proyek Perubahan “DVI-SIAP – Membangun Tata Kelola Terpadu Penyelenggaraan DVI yang Berstandar Internasional”, yang digagas oleh Kombes Pol (KBP) drg Ahmad Fauzi MM GDFO Sp OF Subsp IOF(K), peserta PKN Tingkat I LAN RI Angkatan LXII 2025.
Melalui proyek perubahan tersebut, diperkenalkan modul baru pelatihan DVI. Di antaranya Ante Mortem DVI yang dirancang sesuai standar internasional serta disesuaikan dengan kebutuhan operasional Polri. Modul tersebut sebelumnya telah diujicobakan di Basarnas Cariu, Bogor, minggu lalu, serta telah diujicobakan di Polda Banten pada awal Agustus lalu.
“Pelatihan ini merupakan upaya strategis untuk memastikan personel kita memiliki keterampilan yang mumpuni, terstandar, dan berkesinambungan dalam penanganan DVI. Dengan modul baru ini, kita ingin memastikan setiap proses identifikasi korban berlangsung akurat, cepat, dan bermartabat,” ungkap Kabid DVI Ro Dokpol Pusdokkes Polri Kombes Pol dr Wahju Hidajati Dwi Palupi MARS SpF selaku penanggung jawab kegiatan.
Sementara itu, Kepala Pusdokkes Polri Irjen Pol Dr dr Asep Hendradiana SpAn-TI Subsp TI(K) MKes menyatakan, fase Ante Mortem merupakan tantangan tersendiri dalam operasi DVI.
“DVI fase Ante Mortem adalah fase yang relatif paling sulit, karena tim harus berinteraksi dengan keluarga korban yang dalam kondisi emosional tidak stabil. Dibutuhkan teknik komunikasi khusus, kesabaran, kehati-hatian, dan empati. Tenaga terlatih sangat diperlukan agar data yang dikumpulkan akurat, menyeluruh, dan efektif,” katanya.
Pelatihan Ante Mortem juga sejalan dengan kebijakan Polri dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana, baik alam maupun non-alam, serta mendukung pemenuhan standar internasional Interpol DVI Guideline.
Dengan terselenggaranya pelatihan ini, diharapkan kapasitas personel Polri semakin meningkat, sehingga Polri dapat hadir memberikan kepastian identitas korban kepada keluarga secara cepat, tepat, dan sah secara hukum.(*/dan)