KEPANJEN, RADAR MALANG – Ironi menyelimuti sentra tebu Bumi Kanjuruhan. Di tengah produksi tebu yang meningkat dari tahun ke tahun, justru petani kian tergerus zaman. Itu karena generasi muda enggan turun ke ladang. Akibatnya, regenerasi mandek dan keberlanjutan komoditas penyokong swasembada gula itu mulai dibayangi krisis penerus.
”Generasi muda sekarang rata-rata tidak mau menebang (tebu). Mayoritas pindah ke pabrik,” ujar Muhammad Muqaddas, salah satu mandor panen tebu ditemui beberapa waktu lalu.
Dia mencontohkan ancaman krisis petani tebu di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi. Di lahan tebu tersebut ada lima petani yang seluruhnya lansia atau mendekati lansia. Misalnya sudah berusia hampir 50 tahun.
“Pekerjaan tebang tebu ini dianggap kotor, sehingga mereka (generasi muda) enggan. Padahal dari segi penghasilan, hasil tebang tebu ini terbilang lumayan," kata Muqaddas.
Baca Juga: Dari Malang, Wamenko Pangan Tegaskan Target Swasembada Gula Nasional 2,8 Juta Ton
Saat ini, dia melanjutkan, biaya buruh tebang tebu sekitar Rp 8.000 per kuintal dengan sistem kerja borongan. Biasanya terdiri atas lima pekerja. Kemudian penghasilan harian dikumpulkan berdasar total kuintal yang diperoleh lalu dibagi rata.
Untuk lahan 100 meter persegi, biasanya menghasilkan 100 kuintal tebu. Dengan demikian, dalam satu hari, satu kelompok bisa menghasilkan hingga Rp 800.000. Jika dibagi lima pekerja, masing-masing memperoleh Rp 160.000 per hari. ”Hanya saja harus siap risikonya, yaitu cuaca panas saat di ladang,” kata dia.
Sebagai jalan keluar dari penyusutan pekerja, dia mengatakan, mesin pemotong tebu bisa menjadi solusi. Namun penerapan teknologi tersebut sulit diterapkan di kalangan masyarakat. Sebab, lahan mereka didominasi petak-petak kecil dengan kepemilikan individu.
Selain itu, lanjutnya, jika ingin menggunakan mesin, petani harus mengeluarkan biaya sewa yang tentu menambah beban pengeluaran mereka. “Sangat disayangkan, padahal regenerasi petani tebu sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produksi,” kata Muqaddas.
Baca Juga: Wamenko Bidang Pangan Panen Tebu bersama PG Krebet Baru
Apalagi potensi pertanian tebu di Kabupaten Malang terbilang besar. Luas lahannya bertambah setiap tahun. Pada 2024 berkisar 47.016 hektare. Setahun kemudian, yakni 2025 bertambah menjadi 48.542 hektare. Begitu pula dengan produksinya. Dari yang sebelumnya 4,2 juta ton pada 2024, bertambah menjadi 4,3 ton pada 2025.
Selain regenerasi, dia mengatakan, rendemen yang masih rendah juga menjadi tantangan ekosistem pertanian tebu di Kabupaten Malang. Rendahnya rendemen tebu diungkap oleh Bupati Malang H M. Sanusi. “Saat ini rendemennya masih 7 persen. Padahal, yang paling bagus itu sekitar 12 persen,” kata Sanusi.
Menurut dia, dengan rendemen yang rendah tersebut, Kabupaten Malang sulit untuk mencapai swasembada gula. Oleh karena itu, perlu kehadiran pemerintah untuk mendukung peningkatan rendemen. Dukungannya bisa berupa revitalisasi pabrik-pabrik yang sudah tua. Dengan pabrik yang lebih modern, pengolahan tebu diharapkan lebih optimal. Selain itu, dengan memperhatikan penanaman tebunya. Baik tumbuh kembang maupun pola tanam.(yun/dan).
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang