Ditolak Sopir Angkot, Rute Bus Trans Jatim Koridor II Berpotensi lewat Tol

Nabila Amelia • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 10:13 WIB
Ilustrasi Bus lewat Jalan Tol (freepik)
Ilustrasi Bus lewat Jalan Tol (freepik)

MALANG RAYA, RADAR MALANG - Masifnya penolakan dari para sopir angkot terhadap penambahan koridor Bus Trans Jatim membuat Pemprov Jatim kembali memutar otak. Mereka mulai menyiapkan beberapa skema alternatif. Salah satunya yakni rute melewati tol.

Kepala Seksi (Kasi) Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jatim Cito Eko Yuly Saputro mengatakan, sejauh ini koordinasi dengan Pemkab Malang relatif kondusif. Pemkab juga membantu komunikasi dengan paguyuban angkutan desa (angkudes).

 

Grafis Update Rencana Penambahan Koridor Dua Bus Trans Jatim
Grafis Update Rencana Penambahan Koridor Dua Bus Trans Jatim

Dalam waktu dekat pihaknya berencana melakukan follow-up ke Pemkab Malang. ”Kami akan segera bersurat ke pemkab untuk survei titik henti. Karena sudah ada usulan, kemungkinan pekan depan kami survei sekaligus pematokan,” kata Cito.

Kendati begitu, dia belum bisa menyampaikan jumlah dan lokasi titik henti. Yang pasti ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan dalam menentukan titik henti. Mulai dari supply maupun demand, potensi konflik dengan pemilik lahan atau sopir angkot, hingga lebar lahan antara 3 sampai 4 meter.

Lewat survei titik henti, nanti bisa diketahui lahan yang memungkinkan untuk dibangun shelter. Selain shelter, ada titik henti yang hanya dipasangi rambu pemberhentian bus.

 Baca Juga: Paguyuban Sopir Angkot Bersikukuh Tolak Operasional Koridor II Bus Trans Jatim

Sementara untuk Kota Malang, Cito menyebut bahwa persiapannya masih belum final. Itu karena tingginya resistensi atau penolakan dari paguyuban angkot. Namun, pihaknya sudah menyiapkan skema alternatif untuk menentukan rute Bus Trans Jatim di Kota Malang.

Dari Terminal Talangagung di Kecamatan Kepanjen, rencananya akan berlanjut ke Terminal Hamid Rusdi di Kecamatan Kedungkandang melalui Jalan Mayjen Sungkono. ”Kami tidak jadi lewat Pasar Gadang karena di sana banyak dilewati angkot. Kalau lewat Jalan Mayjen Sungkono kan resistensinya kecil. Yang banyak lewat malah truk tebu,” sebut Cito.

Artinya, ada kemungkinan rute yang dilewati dari Terminal Talangagung, Jalan Sultan Agung, Kecamatan Kepanjen (Jalan Panji), Kecamatan Gondanglegi, Krebet, Kecamatan Bululawang, sampai Terminal Hamid Rusdi dan sebaliknya.

 Baca Juga: Godok Rute Bus Trans Jatim Koridor Dua, Dishub Jatim Pertimbangkan Empat Komponen

Untuk rute fixed yang mengarah dari Kabupaten Malang masih menunggu hasil survei titik henti. Selanjutnya dari Terminal Hamid Rusdi yang masuk ke dalam Kota Malang sampai sekarang masih ada benang kusut.

Semula, ada rencana Bus Trans Jatim menuju Terminal Arjosari. Sebab, masyarakat yang hendak ke luar kota seperti ke Kota Surabaya membutuhkan angkutan pengumpan. Baru dilanjutkan dengan naik Bus AKDP maupun AKAP. 

”Sebenarnya dari Organda (Organisasi Angkutan Darat) Jatim menyampaikan ke saya bahwa angkutan pengumpan seperti Bus Trans Jatim sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ungkap Cito. Namun untuk menuju Terminal Arjosari banyak bersinggungan dengan angkot-angkot yang eksisting. 

”Karena itu sesuai arahan dari pak kepala dinas, ada (opsi) skema untuk lewat dari Tol Singosari. Lalu turun di Tol Madyopuro. Artinya tidak lewat bawah,” beber Cito. Jika menggunakan skema alternatif, jarak tempuhnya diperkirakan 15 kilometer. 

Hanya saja, penumpang yang berada di rute-rute non-tol tidak bisa terangkut. Kendati demikian, Dishub Provinsi Jatim memandang skema alternatif bukan sebagai masalah. Sebelumnya, dishub juga sudah menerapkan untuk koridor-koridor di kawasan Gerbangkertosusilo. 

”Itu kan 80 persen tol. Mulai dari Porong, Sun City, masuk tol, lalu turun ke Terminal Purabaya, masuk tol lagi, dan turun di Romokalisari,” terangnya. Animo penumpang yang diangkut lewat tol pun juga cukup bagus di kawasan Gerbangkertosusilo. (mel/by)

 

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
angkudes organda dishub kasi