MALANG – Dunia maya sedang dihebohkan dengan fenomena Bulan Stroberi alias Strawberry Moon yang kabarnya terlihat di langit Jogjakarta dan Malang, hari Rabu (11/6) dan Kamis (12/6) malam ini.
Namun banyak yang terkecoh dan menunggu kapan munculnya bulan purnama yang berwarna merah muda seperti buah stroberi. Anda termasuk salah satunya?
Jangan salah sangka. Fenomena Strawberry Moon memang sangat istimewa. Apalagi saat bisa disaksikan di kawasan Malang Raya. Munculnya fenomena ini hanya terjadi 18 tahun sekali.
Jadi sangat spesial ketika Anda bisa menyaksikannya bersama orang-orang tersayang. Namun itu bukan berarti bulan akan berwarna kemerahan seperti stroberi.
Berdasarkan penelusuran Jawa Pos Radar Malang, istilah Strawberry Moon mengacu pada penandaan masyarakat Amerika Utara di masa lalu ketika musim stroberi. Saat itu, ketika panen stroberi datang bertepatan dengan purnama di bulan Juni. Karenanya, mereka menyebutnya sebagai Bulan Stroberi.
Secara umum, Strawberry Moon ini adalah bulan purnama biasa yang terjadi di bulan Juni. Dalam beberapa kesempatan, bulan memang terlihat keemasan karena efek filter atmosfer bumi, sehingga mirip peristiwa terbit dan tenggelamnya matahari. Namun bukan kemerahan seperti bayangan banyak orang.
Bulan Paling Dekat dengan Kita
Berbagai sumber menyebutkan, fenomena ini terjadi cukup biasa. Namun beda dengan Strawberry Moon yang terjadi pada Juni 2025 ini. Bulan berada di titik terendahnya karena fenomena Major Lunar Standstill atau disebut Lunistice.
Sebenarnya, Strawberry Moon awalnya digunakan sebagai penanda panen bagi suku Algonquian. Suku asli Amerika Utara ini memang sangat tertarik dengan langit sehingga menggunakan bulan sebagai penanda waktu. Di masa itu, stroberi liar memang banyak berbuah di bulan Juni dan suku Algonquian akan bersiap-siap untuk panen raya.
Di Eropa, Straberry Moon juga kerap disebut sebagai Honey Moon yang erat dengan musim pernikahan. Serta Rose Moon atau Bulan Mawar, karena banyaknya mawar yang bermekaran di sana.
Namun belakangan, Strawberry Moon ini juga menjadi ritual. Di mana ketiak bulan begitu dekat dengan manusia di bumi, banyak yang memanfaatkannya untuk refleksi diri.
Ungkapan Cinta di Bulan Terbaik
Bulan Juni memang begitu istimewa. Sejumlah seniman bahkan menggunakan nama bulan pertengahan tahun ini sebagai diksi yang lekat dengan cinta dan kasih sayang. Sebut saja puisi fenomenal, Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni.
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Puisi pendek yang begitu bermakna ini banyak diadaptasi dalam berbagai karya seni lain. Mulai novel, pementasan teater, hingga film.
Lalu coba dengarkan lagu berjudul Satu Hari di Bulan Juni yang dinyanyikan Tulus. Liriknya begitu lugu namun dalam dan puitis. Tulus yang biasa menyanyikan lagu balad, menyanyikan lagu ini dengan gaya lawas, mirip lagu di era 60-an. Apalagi ada huuuu wiuwww.. huuuu wiuwww.. huuuu wiuwww...
Editor : A. Nugroho