Hasil dari program itu, Kota Malang mencatatkan deflasi.
Sebagai informasi, deflasi merupakan kebalikan dari inflasi.
Deflasi menunjukkan harga kebutuhan bahan pokok di suatu daerah tidak banyak yang mengalami kenaikan.
Pada bulan Juli lalu, angka deflasi di angka -0,01 persen (selengkapnya baca grafis).
Komponen yang memiliki andil besar dalam deflasi yakni bawang merah, cabai merah, tomat dan telur.
Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menerangkan, meskipun mencatatkan inflasi, masih ada komoditas yang harganya belum menurun.
Salah satunya yakni cabai rawit. Harga normalnya Rp 25 sampai Rp 30 ribu, kini naik menjadi Rp 70 ribu.
”Kerja sama antar daerah ini merupakan langkah ampuh untuk menekan harga kebutuhan pokok di Kota Malang.
Kami mencari di daerah lain yang harganya masih rendah untuk dijual dengan harga normal di sini,” jelas Wahyu.
Dia mencontohkan, pada bulan lalu telah membeli bawang merah dari Kabupaten Probolinggo.
Hasilnya, harga bawang merah di pasaran mengalami penurunan dan menjadi penyumbang tertinggi deflasi.
”Selain Probolinggo, ada Kabupaten Malang, Nganjuk, Blitar. Kalau untuk Lumajang masih belum ada pengiriman, nanti akan kami lihat apa yang bisa dibeli dari sana,” terang Wahyu.
Selain KAD, pemkot juga menyiapkan beberapa program lain.
Sepertinya pasar murah yang merupakan kerja sama dengan Bulog dan Perumda Tugu Aneka Usaha.