JAKARTA, RADAR MALANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menyentuh level terendah pada Selasa (5/5/2026) dengan menembus angka Rp17.400 per dolar.
Meskipun mengalami tekanan hebat, Pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada pada jalur yang benar dan kokoh.
Baca Juga: Viral Kronologi Pemukulan Waketum PSI Bro Ron, Pelaku Terancam 5 Tahun Penjara
"Ekonomi kita sedang mengalami akselerasi yang tidak disadari banyak orang," tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa.
Beliau menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan I yang mencapai 5,61% merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara G20.
Angka ini jauh melampaui ekspektasi lembaga internasional yang rata-rata memprediksi pertumbuhan di angka 5,2%.
Baca Juga: Presiden Prabowo Setujui Aturan Pembatasan Jabatan Polri di Luar Institusi
Pemicu Pelemahan Mata Uang
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berstatus under valued atau berada di bawah nilai fundamentalnya.
Tekanan jangka pendek ini dipicu oleh faktor global seperti tingginya harga minyak dunia dan suku bunga Amerika Serikat yang meningkat drastis. Selain itu, terdapat siklus musiman berupa tingginya permintaan dolar untuk pembayaran dividen serta kebutuhan ibadah haji.
Strategi Menkeu Purbaya Jaga Stabilitas Nasional
Guna memperkuat otot Garuda, Bank Indonesia telah menyiapkan tujuh langkah penting termasuk intervensi pasar valas secara rutin.
Baca Juga: Jalur Cepat Bangun Karier, Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif dari CoE Kelapa Sawit
Pemerintah juga berencana melakukan diversifikasi pendanaan melalui penerbitan Panda Bond di pasar Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
Kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) juga akan diperketat mulai 1 Juni 2026 untuk memastikan pasokan dolar dalam negeri tetap terjaga.
Editor : Aditya Novrian