MALANG KOTA - Nilai pinjaman yang disalurkan pegadaian di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang menembus Rp 12 miliar. Itu hanya untuk tiga bulan pertama, Januari-Maret lalu. Angkanya menurun secara year-on-year sebesar 14,87 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Banyak faktor yang menjadi penyebab menurunnya penyaluran pinjaman pegadaian. Terutama karena meningkatnya penggunaan pembiayaan alternatif seperti pinjaman online (pinjol) atau paylater. Selain itu, pinjaman gadai memang sensitif terhadap siklus kebutuhan dana darurat.
Kepala OJK Malang Farid Faletehan mengatakan, industri gadai kedatangan pelaku usaha baru. Yaitu PT Gadai Rejeki Gemilang yang efektif beroperasi sejak 13 Maret lalu.
“Adanya pelaku usaha baru seharusnya bisa meningkatkan kinerja gadai sebagai salah satu penunjang ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Manager Marketing Pegadaian Cabang Malang Jarwadi menuturkan biasanya peningkatan gadai terjadi sejak Mei lalu. Saat itu banyak wali murid datang membawa barang berharga untuk dijadikan jaminan. Mereka membutuhkan dana segera cair untuk biaya pendidikan.
Dia mengatakan, barang yang dijadikan jaminan sebagai syarat mendapatkan pinjaman beragam. Mulai BPKB kendaraan, sertifikat rumah atau tanah, hingga emas perhiasan maupun batangan. Rentang peminjaman uang biasanya dimulai di angka Rp 5 juta.
“Tapi tahun ini trennya agak lambat. Biasanya Mei sudah banyak yang akses pegadaian,” lanjut Jarwadi.
Namun hingga awal Juni ini belum ada peningkatan signifikan dari jumlah nasabah yang datang. Kebanyakan dari mereka bertransaksi emas.
Para nasabah yang menggadaikan barangnya harus melewati penaksir harga untuk mendapat pinjaman. Untuk pinjaman di bawah Rp 5 juta biasanya cukup jaminan alat elektronik seperti laptop atau emas gramasi rendah. Sementara untuk jaminan di atas Rp 5 juta, pegadaian lebih selektif dengan mensyaratkan barang yang lebih bernilai seperti sertifikat tanah atau rumah.(aff/dan)
Editor : Mahmudan