RADAR MALANG - Pasar Prancis tengah dilanda gejolak akibat ancaman keruntuhan pemerintahan Perdana Menteri Michel Barnier.
Obligasi dan saham pemerintah mengalami aksi jual besar-besaran pada Rabu (27/11), menyusul ketegangan politik terkait rancangan anggaran yang ketat.
Informasi ini didapat Financial Times, dimana kesenjangan biaya pinjaman 10 tahun antara Prancis dan Jerman melonjak ke level tertinggi sejak krisis Zona Euro 2012, mencapai 0,9 poin persentase sebelum kembali ke 0,86 poin.
Baca Juga: Sara Duterte Ancam Bunuh Presiden Filipina, Marcos Jr Buka Suara
Indeks saham Cac 40 turun 0,7 persen, menjadi yang terburuk di antara pasar utama Eropa.
Sektor keuangan, seperti Axa dan Société Générale, mengalami kerugian besar masing-masing 4,3 persen dan 3,5 persen.
Michel Barnier menghadapi tantangan besar untuk meloloskan anggaran yang mencakup pemotongan belanja dan kenaikan pajak sebesar €60 miliar, meski tidak memiliki mayoritas parlemen.
Baca Juga: Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun Diselidiki atas Tuduhan Korupsi
Dia mengindikasikan kemungkinan menggunakan instrumen konstitusional untuk melewati parlemen, langkah yang dapat memicu mosi tidak percaya.
Marine Le Pen, pemimpin sayap kanan dan kepala partai Rassemblement National, menjadi tokoh kunci dalam konflik ini.
Le Pen mengancam menjatuhkan pemerintahan jika tuntutannya untuk melindungi rakyat dari kenaikan pajak tidak dipenuhi.
Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran investor atas beban utang Prancis, yang kini lebih dekat dengan level Yunani daripada Jerman.
Dengan defisit anggaran diprediksi melampaui 6 persen dari PDB tahun ini dua kali lipat batas UE Brussels telah menempatkan Prancis di bawah pengawasan “defisit berlebihan.”
Situasi politik ini menempatkan Barnier dalam tekanan besar untuk menghindari krisis ekonomi yang lebih serius. (rie)
Editor : Aditya Novrian