Menurutnya, dalam tataran sejarah, Kabupaten Malang merupakan induk atas semua wilayah yang ada di Malang Raya. Sehingga jika nama Kabupaten Malang sampai diubah, hal ini dikhawatirkan bisa menghilangkan nilai sejarah yang sudah terbentuk lebih dari seribu tahun ini.
"Kabupaten Malang ibarat orang tua yang sudah melahirkan anaknya satu Kota Malang, kedua Kota Batu. Ya masak akan kami hilangkan sejarah ini," ucapnya.
Namun demikian, dia mengaku tak mempermasalahkan wacana perubahan nama oleh bupati ini. Karena sah-sah saja jika bupati membuka usulan tentang sebuah hal. Namun dia mewanti-wanti agar hal itu tidak sampai menjadikan daerah terluas nomor dua di Jawa Timur setelah Banyuwangi ini kehilangan nilai sejarahnya.
"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," imbuhnya.
Menurut politikus dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) ini, pemberian nama adalah sebuah doa. Sehingga dia meminta, jika memang eksekutif serius dengan wacana ini, harus dilakukan sebuah kajian mendalam terlebih dahulu. Baik dari aspek sosiologis, historis, dan beberapa hal lain yang menjadi pondasi utama daerah ini awalnya diberi nama Kabupaten Malang.
"Jadi pada prinsipnya kalaupun wacana, itu tidak ada masalah sepanjang itu benar-benar melalui sebuah proses kajian dan harus mengikutsertakan unsur yang ada di wilayah Kabupaten Malang. Entah itu akademisi tokoh masyarakat tokoh, budaya harus dilibatkan," tegas Amin.
Namun sejauh ini dia mengaku bahwa bupati belum pernah secara resmi mengajak diskusi anggota DPRD Kabupaten Malang untuk wacana ini. Sehingga dia juga tak bisa berkomentar apakah wacana ini ada hubungannya dengan isu pemekaran wilayah beberapa tahun lalu.
"Jadi arahnya seperti apa kami belum tahu," kata Amin.
Dia pun memberikan rekomendasi kepada bupati. Dari pada sibuk dengan wacana perubahan nama, alangkah lebih baiknya jika dalam masa pandemi ini pemerintah daerah berfokus pada penanganan Covid-19.
"Saat ini masih harus lebih konsentrasi dalam hal penanganan Covid ini segera selesai kemudian bagaimana kami segera memulihkan kembali perekonomian masyarakat di Kabupaten Malang," kata dia.
Dia berharap, wacana bupati ini hanya akan jadi sebuah wacana. Dan tidak untuk diwujudkan. Karena dia khawatir, apabila nama Kabupaten Malang diubah, maka nilai sejarah yang ada akan berkurang. Selain itu, dampak dari perubahan nama, akan banyak turunan lain yang harus dilakukan. Sehingga dimungkinkan juga akan memakan banyak anggaran.
"Kalau secara histori, harapan saya tidak usah (ganti nama, red), karena embrionya Kota Malang, Kota Batu, itu kan Kabupaten Malang. (fik/abm/rmc)
Editor : Shuvia Rahma