Atik, 50, salah satu karyawan Kopti mengatakan, dari total 358 anggota koperasi, hampir separonya memutuskan untuk berhenti sementara waktu. ”Saya sering tanya kepada anggota Kopti yang berhenti berproduksi. Semua mengatakan karena harga kedelai naik terlalu tinggi,” ujar perempuan yang juga pernah menjadi manajer Kopti itu.
Ia mengatakan, fluktuasi harga kedelai memang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Namun lonjakan tertinggi baru terjadi kali ini saja. Di mana harga kedelai bisa tembus sampai Rp 11 Ribu per kilogram. Pihak koperasi jelas tidak bisa mengatasi permasalahan tersebut. Menurutnya, harus ada campur tangan pemerintah pusat untuk mengendalikan harga kedelai.
Tingginya kebutuhan bahan baku itu menjadi riskan bagi produsen tempe. Seperti sekarang ini, suplai kedelai kepada perajin sedang tersendat. Keluhan itu sudah masuk ke Pemkab Malang. Kebanyakan, produsen tempe mengecilkan ukuran agar tidak naik harga. Saat normal, harga kedelai di bawah Rp 10 ribu per kilogram.
Sementara saat ini di pasaran sudah ada yang tembus Rp 12.500 per kilo. Akibatnya, margin keuntungan perajin semakin tipis. Para produsen memutar otak dengan menyusutkan ukuran tempe, meski dengan risiko dikomplain hingga ditinggalkan oleh para konsumen. Pria berkacamata itu menegaskan, Pemkab Malang telah menampung semua keluhan perajin. Komplain soal harga kedelai akan disalurkan ke pemerintah pusat dengan harapan stok dan harga kedelai bisa kembali normal. (and/rb-1/fin/fat) Editor : Mardi Sampurno