Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hadirkan Layanan Tomboan, Pertahankan Nuansa Tempo Dulu

Mardi Sampurno • Minggu, 7 Agustus 2022 | 23:05 WIB
JADI CAGAR BUDAYA: Suasana salah satu sudut Situs Patirtaan Ngawonggo, Kecamatan Tajinan yang asri dan alami. (HANIFUDIN MUSA/RADAR MALANG)
JADI CAGAR BUDAYA: Suasana salah satu sudut Situs Patirtaan Ngawonggo, Kecamatan Tajinan yang asri dan alami. (HANIFUDIN MUSA/RADAR MALANG)
Kabupaten Malang punya banyak tempat bersejarah yang bisa dikembangkan menjadi tempat wisata sekaligus edukasi. Salah satunya Situs Patirtaan Ngawonggo di Kecamatan Tajinan.

BERLOKASI di Jalan Rabidin, Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, situs bersejarah ini kian dilirik banyak wisatawan. Juru Pelihara Situs Patirtaan Ngawonggo Rahmad Yasin mengatakan, Patirtaan Ngawonggo telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemkab Malang tahun 2021 lalu. Pria yang akrab disapa Yasin ini menjelaskan, keberadaan situs tersebut sudah diketahui masyarakat setempat sejak lama secara turun temurun.

Namun baru pertengahan 2017, Yasin bersama teman-temannya berupaya mengetahui lebih jauh tentang situs tersebut. “Karena sejak kecil, kami bersama teman-teman sering bermain-main di sekitar situs,” kata pria 30 tahun itu.

Yasin dan teman-temannya juga sempat mengunggah Situs Patirtaan Ngawonggo ke media sosial. Tanpa disangka-sangka, unggahan tersebut mendapatkan respons dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim). Selanjutnya, BPCB melakukan ekskavasi dan zonasi terhadap situs tersebut.

Dari hasil ekskavasi dan zonasi oleh BPCB, situs tersebut diperkirakan berasal dari masa peralihan dari Kerajaan Kediri dan Kerajaan Singosari. Namun ada juga sejarawan setempat yang menduga situs tersebut berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang.

Secara keseluruhan, objek kawasan situs memiliki luas sekitar 1.000 meter
persegi. Yasin memperkirakan ada banyak potensi cagar budaya di kawasan sekitar situs. Beberapa di antaranya yang sudah terlihat seperti parit, saluran, anak tangga yang strukturnya tidak pernah diubah sejak dahulu.

Saat ini, warga sekitar telah menambahkan fasilitas tomboan di kawasan situs tersebut. Tomboan sendiri merupakan kearifan lokal dengan menghadirkan sarana dan prasarana yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat. Melalui tomboan, pe ngunjung bisa duduk sambil istirahat sembari menikmati gemercik aliran air di Situs Patirtaan Ngawonggo.

Konsep tomboan yang disajikan di Situs Patirtaan Ngawonggo sendiri bernuansa tempo dulu. Pengelola menyiapkan saung, kursi kayu, kendi, gelas serta piring enamel, sepeda ontel dan pernak-pernik lainnya.

Yasin menegaskan, tomboan Situs Patirtaan Ngawonggo bukan warung atau cafe. Pengelola hanya berperan sebagai penyedia sarana dan prasarana untuk tamu. Sebab itu, pengunjung tidak perlu membayar dengan nominal tertentu. Hal terpenting, tamu hanya perlu menyisihkan uang seikhlasnya di kotak yang telah disediakan di tempat.

Untuk jumlah kunjungan, Yasin memperkirakan total ada 1.000-an orang yang datang selama sebulan terakhir. Sebagian besar berasal dari Malang Raya tetapi ada pula pengunjung dari luar Malang Raya dan luar provinsi. Bahkan, sempat juga dikunjungi wisatawan asing meski pun tidak banyak jumlahnya.

Sementara itu, Wulan salah seorang pengunjung Patirtaan Ngawonggo mengaku baru pertama kali mengunjungi situs tersebut. Perempuan 27 tahun itu juga tertarik datang karena penasaran. ”Bagus sekali, adanya tomboan ini juga mendukung sekali dengan menghadirkan nuansa tempo dulu,” terangnya. (nif/nay) Editor : Mardi Sampurno
#tomboan #pertahankan #Nuansa Tempo Dulu