Matarip terjatuh ke dalam sebuah sumur di sekitar rumahnya yang memiliki kedalaman sekitar 25 meter. Kapolsek Tajinan AKP Supriyadi melalui Kasi Humas Polres Malang Iptu Ahmad Taufik mengatakan, peristiwa itu kali pertama diketahui oleh Paunah, istri korban, selepas menjalankan ibadah Salat Maghrib. ”Awalnya ada bunyi klotek seperti kayu patah. Kemudian setelah mendengar itu, Paunah mencari keberadaan suaminya,” terang Taufik kemarin (30/10).
Paunah pun beranjak ke sumur. Itu dia lakukan karena sadar betul bahwa suaminya punya penyakit pikun. Kekhawatirannya pun benar-benar terbukti. Dia melihat sepasang sandal milik korban di pinggir sumur. Pada saat yang bersamaan Paunah mendengar suara orang seperti mengerang dari dalam sumur.
Paunah langsung memanggil seluruh keluarga yang berada di dalam rumah. Mereka pun memastikan bahwa pemilik suara dari dalam sumur itu adalah Matarip. Pihak keluarga akhirnya memanggil para tetangga dan perangkat desa untuk menolong korban.
Proses evakuasi ternyata tidak mudah untuk dilakukan. Selain sumurnya sangat dalam, kayu yang ada di sumur untuk menempatkan katrol juga rapuh. Tersisa pilar di dua sisi yang bisa dimanfaatkan untuk menempatkan tali. Namun pilar itu akhirnya roboh dan melukai salah satu petugas yang menangani kejadian tersebut.
Sekitar pukul 20.15, korban baru bisa diangkat ke atas sumur. Setelah dicek di Puskesmas Tajinan, dipastikan bahwa Matarip benar-benar sudah tak bernyawa. Kemudian jenazahnya dibawa ke Unit Forensik RSSA untuk menjalani visum et repertum.
Dari tubuh korban ditemukan luka lecet di kepala, lutut sebelah kiri, dan luka memar di kaki sebelah kanan. Kuat dugaan itu karena benturan saat korban terjatuh ke bawah. ”Dari hasil pendalaman petugas, korban juga sering sakit-sakitan karena faktor usia,” imbuh Taufik. (biy/fat) Editor : Mardi Sampurno