Dengan bentuk lingkaran, pengunjung bisa menikmati 360 derajat panorama pemandangan yang ada. Utamanya, Gunung Kawi dan Arjuno. Kehadiran irigasi di sekitar pertigaan Jalibar tetap dimanfaatkan. Saluran air dipakai irigasi tanaman hias dan budidaya. Setelah itu, di Koridor Dua, Alifian secara spesifik membahas pusat perdagangan Kepanjen. Dia merasa perlu menampilkan keberagaman dan keaslian karakter sosial. “Pembagian koridor sebagai teritori bersama harus adil antara penduduk lokal, pengunjung, dan penggiat ekonomi di sana,” ujarnya. Pemanfaatan jalur sepeda terintegrasi dengan pedestrian. Area terbuka menjadi plaza untuk transit bus.
Sementara tempat duduk, area parkir sepeda kayuh dan tempat sampah juga tersebar di area koridor dua. Selanjutnya di Koridor 3, secara khusus Alifian dan timnya memperkuat desain jembatan pertigaan PLN. “Jembatan secara fungsi dan simbolik merupakan penghubung. Yaitu antara masyarakat, pemerintah, dan alam. Jembatan bertindak menyandingkan infrastruktur dengan alam (sungai) dengan konsep monumen reflektif yang melestarikan sungai,” sambungnya. Sehingga, dia mengusulkan adanya penghijauan di kedua sisi sungai.
Gapura ikonik juga ditancapkan di kedua sisi jembatan. Kawasan ini masih menampilkan jalur sepeda kayuh yang akan terus bergerak ke kantor Bupati. Di Koridor empat, Alifian mempertimbangkan adanya rencana alun-alun. Esensi pendapa sebagai ruang penerima area privat dapat berubah menjadi publik. “Ekspresi kanopi dan taman selasar alun-alun meneruskan prinsipprinsip iklim mikro dan pernaungan dari joglo Pendapa Kantor Bupati,” jelasnya. Dia juga mengusulkan aksen batik pada bagian depan Pendopo Panji. Serta, merekomendasi vegetasi yang ditanam di sekitar jalan Panji tersebut. “Stadion Kanjuruhan sebagai ikon Arema akan berbenah.
Ini terwujud dalam rancangan plaza yang terbuka, mengakomodasi bebagai macam aktivitas. Olahraga, rekreasi, edukasi, dan perdagangan. Plaza ini terinspirasi dari Yoni (keberlangsungan hidup) dengan desain lansekap halus menerus menyerupai gunung, sungai dan laut,” tutupnya. (fin/nay) Editor : Mardi Sampurno