Kesiapan RSUD Kanjuruhan menjadi RS Pendidikan Utama Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (UM) tinggal selangkah lagi.
Hasil visitasi tim Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pada 15--18 Maret menyebutkan, RS milik Pemkab Malang itu telah memiliki modal dasar. Yakni telah menjadi jejaring universitas-universitas di Malang Raya.
MALANG KABUPATEN - Komitmen Bupati Malang Drs. H.M Sanusi, MM terhadap pembangunan kesehatan dan pendidikan benar-benar dijaga.
Salah satunya meningkatkan peran RSUD Kanjuruhan dari RS pelayanan menjadi RS Pendidikan Utama.
Bahkan untuk kepentingan itu, Pemkab Malang telah menambahkan lahan dua hektare untuk pengembangan layanan dan pendidikan di RSUD Kanjuruhan.
Penunjukan RSUD Kanjuruhan, Kabupaten Malang sebagai RS Pendidikan Utama ini dilatari persyaratan dasar pengembangan FK UM.
Di mana, untuk mendirikan program studi S1 Fakultas Kedokteran, maka harus memiliki RS Pendidikan Utama. Dan RSUD Kanjuruhan-lah yang dipilih oleh Univeritas Negeri Malang sebagai partner.
Plt Direktur RSUD Kanjuruhan dr Bobi Prabowo Sp. EM, KEC, M.Biomed mengatakan, tidak gampang sebuah rumah sakit ditunjuk sebagai RS Pendidikan Utama.
Menurutnya, ini menjadi kesempatan besar bagi RSUD Kanjuruhan. Apalagi, selama ini di Malang Raya, rumah sakit-rumah sakit pendidikan masih berperan sebagai RS satelit atau jejaring.
"Ada RSSA Malang, itu pun milik Pemprov Jatim. Kami sangat bersyukur, karena rumah sakit daerah menjadi RS Pendidikan Utama," ujarnya, kemarin (18/3)
Dengan menjadi RS Pendidikan Utama, lanjutnya, maka ke depan, RSUD Kanjuruhan menjadi wahana pendidikan. Artinya, berperan besar dalam mencetak calon-calon dokter andal di Indonesia.
Kesempatan menjadi lebih maju dan lebih berkualitas bagi RSUD juga semakin besar. Sebab akan berada di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan dan Kemendikbud Ristek Dikti. "Tentu ini menjadi kebanggan tersendiri bagi Kabupaten Malang," kata dr Bobi.
Karena telah memiliki modal sebagai RS Pendidikan jejaring, lanjutnya, RSUD Kanjuruhan hanya tinggal melalukan pembenahan-pembenahan.
Berdasarkan catatan visitasi KKI, salah satu yang harus diubah adalah visi RSUD. Dari semula sebagai RS pelayanan, maka menjadi RS Pelayanan dan Pendidikan.
Sedangkan dari sisi sarana-prasarana, sesegera mungkin akan dibangun asrama calon dokter dan ruang belajar yang memadai.
"Untuk dosen pengajar, kami sangat siap. Saat ini ada 9 dokter yang ready. Dengan ratio 1:5, itu sudah lcukup," terangnya.
"Sebagai optimalisasi, akan ada empat Puskesmas sebagai tempat belajar pula, salah satunya Puskesmas Pakis," sambung dr Bobi.
Lebih lanjut, sebelum menempuh pendidikan di RS Pendidikan Utama, para calon-calpn dokter nanti akan menuntaskan pendidikan di FK UM selama 3,5 tahun.
Baru kemudian masuk ke RSUD Kanjuruhan untuk menempuh pendidikan profesi dokter selama dua tahun.
Dengan berkembangnya RSUD Kanjuruhan menjadi RS Pendidikan Utama, maka banyak keuntungan yang didapat.
Terutama akses kemudahan dalam melengkapi sarana dan prasarana serta melengkapi SDM di masa depan juga update ilmu kedokteran akan semakin cepat," kata dr Bobi.
"Dengan membuat masyarakat sehat, maka pembanguan akan lebih pesat karena kesehatan merupakan aset yang paling mahal," tandas dr Bobi. (jprm1/nen) Editor : Neny Fitrin