Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Batu Tulis Kuno di Malang Raya, Kondisi Terkini dan Cerita yang Menyertainya (6-Habis)

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 8 Agustus 2023 | 22:00 WIB

 

PENINGGALAN BERSEJARAH: Dua warga Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, mengamati tulisan pada Prasasti Selobrojo, Minggu (6/8).
PENINGGALAN BERSEJARAH: Dua warga Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, mengamati tulisan pada Prasasti Selobrojo, Minggu (6/8).
Ada Kisah Kesaktian Mbah Bendung di Balik Keberadaan Prasasti Selobrojo

Salah satu sisi lereng Gunung Kawi menyimpan peninggalan bersejarah, yakni Prasasti Selobrojo. Berisi tujuh baris tulisan, prasasti tersebut memuat cerita tentang dua asrama kependetaan. Yakni Mandala Awaban dan Mandala Sagara.

NABILA AMELIA

TIDAK mudah untuk melihat Prasasti Selobrojo. Sebab, letaknya berada di lereng sisi barat Gunung Kawi. Tepatnya di Dusun Selobrojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Dari kantor desa menuju pesarean yang menjadi tempat prasasti, pengunjung harus melintasi jalanan kecil sepanjang 3 kilometer. Pilihannya hanya menggunakan motor atau jalan kaki.

Kalau ingin lebih cepat harus melintasi bukit yang hanya bisa dilintasi satu motor. Belum lagi, lokasinya di area Perhutani yang sebagian besar belum terpasang aspal atau paving.

Prasasti Selobrojo memang terletak di pesarean bersama Makam Mbah Lameng, salah satu tokoh pembuka lahan atau babat alas di Desa Banjarejo. Tinggi prasasti itu sekitar 66 sentimeter, lebar 37 sentimeter, dan tebal 10 sentimeter. Isinya hanya tujuh baris kalimat dalam bahasa Jawa kuno. Enam baris di bagian depan, sisanya di bagian belakang. Semuanya masih sangat jelas.

Tapi, pada bagian bawah prasasti terdapat tambalan semen. Memunculkan dugaan bahwa benda bersejarah itu pernah patah, lalu diperbaiki seadanya. Di sekeliling prasasti terdapat batu-batuan. Fungsinya seperti untuk mengganjal prasasti agar tidak roboh. Diduga prasasti itu berangka tahun 1336 saka atau 1445-1415 Masehi.

Filolog Jan Laurens Andries Brandes bersama N. J. Krom pernah mentranskrip isi prasasti itu dan dituangkan dalam Oud-Javaansche Oorkonden (OJO). Namun beberapa ahli memiliki pandangan berbeda terhadap makna yang terkandung dalam prasasti itu.

Misalnya Sejarawan Dwi Cahyono. Dalam tulisan berjudul Mandala di Awaban: Benteng Terdepan Tumapel bagi Kemenangan Angrok dalam Perang Ganter (1222 M), Dwi menyebut ada dua bangunan suci yang disebut pada Prasasti Selobrojo. Mandala pertama berada di Awaban, yang diperkirakan berada di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, sub-area barat Kabupaten Mapang.

Awaban disebut sebagai satu di antara lima bangunan suci di Malang Raya sebelah barat. Sementara, bangunan suci lainnya adalah Mandala Sagara yang diperkirakan berada di sekitar tempat yang sekarang adalah Bendungan Selorejo.

Mandala di Awaban, menurut Dwi, merupakan benteng terluar dari Kerajaan Tumapel yang diperintah Ken Angrok. Oleh karena itu, mandala di Awaban memiliki peran penting bagi kemenangan Kerajaan Tumapel pada pertempuran di Ganter tahun 1222 Masehi.

Pandangan berbeda diungkapkan pemerhati sejarah Malang, Suwardono. Dia mengatakan, Prasasti Selobrojo menceritakan Mandala Awaban yang dikelola kabuyutan (tetua asrama kependetaan) bernama Kbo Glis dan Kbo Duran. ”Aktivitas yang ada di Mandala Awaban dan Mandala Sagara ini sama,” terang dia.

Untuk menganalisis dua mandala itu, Suwardono mengacu pada Kitab Nagarakertagama pupuh 78 dan Kisah Bujanggamanik. Dia memperkirakan Mandala Sagara berada di timur Kagenengan atau yang sekarang Wagir. Tepatnya di Dusun Segaran. ”Sementara Mandala Awaban sendiri di Selobrojo,” jelasnya.

Di kalangan warga Desa Banjarejo, Prasasti Selobrojo dipercaya sebagai watu senderan atau tempat bersandar dari Mbah Bendung. Sosok itu diyakini sebagai orang yang mbabat alas di Desa Banjarejo.

”Dulu, di desa ini sempat terjadi banjir besar. Namun berkat tongkat yang ditancapkan Mbah Bendung, kawasan ini bisa terhindar dari banjir,” kata Sekretaris Desa Banjarejo Tri Tunggal. Tongkat itu lantas dicabut dan digantikan pohon yang disebut Pohon Lo. Pohon itu sampai sekarang masih berada di jalan menuju pesarean.

Tak hanya menangkal banjir, Mbah Bendung dikisahkan bisa terhindar dari Pasukan Kerajaan Kediri saat berperang melawan Kerajaan Singhasari pada 1292 M. Meskipun sempat ditawan, Mbah Bendung bisa bebas tanpa diketahui Pasukan Kediri.

Selo artinya batu, sedangkan dan brojo itu hujan. Dinamakan seperti itu karena tempat Mbah Bendung bertapa dilempari batu saat diserang Pasukan Kediri," terang Tri. Sampai sekarang warga setempat juga masih sering melakukan bersih desa di pesarean. (mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#selobrojo #prasasti