MALANG KABUPATEN - Pertempuran pada 1948 menjadi inspirasi utama pembangunan Monumen Palagan Mendalan di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Sosok Lettu Anumerta Soediarto digambarkan memakai seragam dinas militer tanpa topi sembari memegang pedang.
Patung dengan tinggi sekitar enam meter itu berdiri menghadap ke arah barat laut. Warga yang hendak menuju Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri melalui Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang bisa dengan mudah menjumpai monumen tersebut. Letaknya sekitar 250 meter dari Pasar Ngantang. Tepatnya di pertigaan jalan ke arah barat.
Menurut buku Monumen Perjuangan Jawa Timur yang ditulis Prayoga Kartomihardjo dkk, pembangunan Monumen Palagan Mendalan dimulai pada 1981. Tujuannya untuk menggambarkan pertempuran yang terjadi di pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Selorejo dan PLTA Mendalan.
Di sana lah basis perjuangan Lettu Anumerta Soediarto. Soediarto adalah satu dari lima pahlawan yang tergabung dalam Kompi Soemadi di Batalyon Sunandar. Pada bulan Desember 1948, Belanda mengincar instalasi listrik di Dusun Mendalan, Desa Pondok Agung, Kecamatan Kasembon. Sebab, instalasi tersebut termasuk salah satu objek vital.
Agar tidak diambil alih Belanda, Kapten Soemadi yang merupakan Komandan Kompi III Batalyon Soenandar ditugaskan untuk menghancurkan instalasi di Dusun Mendalan. Soemadi lantas memerintahkan Soediarto dan Martawi bersama pasukan-pasukan mereka untuk menghambat Belanda di Desa Klangon.
Pertempuran antara Belanda dengan pasukan yang dipimpin dua orang itu berlangsung sekitar dua jam. Lalu, keduanya menuju ke PLTA Mendalan untuk memperkuat pertahanan pasukan lainnya. Dalam pertempuran di Dusun Mendalan pada 21 Desember 1948 itu, Kompi Soemadi bertempur bersama-sama untuk mempertahankan PLTA.
Namun, pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Van De Pries lebih kuat. Sebab, pasukan itu tidak hanya melakukan serangan melalui jalur darat. Namun juga melancarkan serangan dari udara. Mereka dilengkapi dengan pesawat mustang yang meluncurkan bom dari udara.
Akibat serangan pasukan Van De Pries, banyak pejuang dan warga yang menjadi korban, termasuk Soediarto. Soediarto tertembak saat berupaya mempertahankan PLTA Mendalan hingga 26 Desember 1948. Sebelum gugur, dia sempat bertempur dengan pasukan Belanda menggunakan pedang. Karena itu lah ada ornamen pedang dalam patungnya.
Untuk mengenang keberanian Soediarto, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kabupaten Malang mengusulkan pembangunan monumen tersebut. Selain patung Lettu Anumerta Soediarto, di monumen tersebut juga terdapat relief dan prasasti yang menggambarkan pertempuran di Dusun Mendalan.
Monumen Palagan Mandalan itu diresmikan Pangdam Brawijaya Mayjen TNI Moergito pada 26 Mei 1982. Agus Wahyono, penulis sejarah lokal Malang juga menyebut bila Kapten Soemadi bersama anak buahnya Lettu Anumerta Soediarto bertempur habis-habisan saat itu. ”Mereka berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan sumber energi listrik tersebut,” kata dia.
Sepengetahuannya, saat itu Soediarto gugur tertembak dan mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan Kapten Soemadi. Dari pihak Belanda juga banyak prajurit yang tewas. ”Dari tentara Indonesia ada 77 prajurit yang gugur,” imbuh pria asal Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing tersebut.
Saat ini, perawatan monumen itu dilakukan secara sukarela. Taat Iwanes, salah satu relawan mengaku, semua biaya untuk perawatan monumen didapatkan secara mandiri. ”Dana pengecatan ulang di 2022 kami dapatkan dengan cara menjual kaos, meminta sumbangan ke komunitas, dan door to door ke rumah warga. Pengecatan itu kami lakukan untuk mengembalikan warna patung seperti pertama kali diresmikan,” paparnya.
Sementara itu, pembersihan monumen secara menyeluruh biasa dilakukan setahun sekali dengan mengerahkan berbagai komunitas yang ada di Ngantang. Acara bersih monumen di sana rutin diadakan sejak 2010. Biasa dilaksanakan menjelang 17 Agustus. ”Awalnya saya hanya mengajak komunitas Vespa. Namun di tahun ini ada komunitas lain yang terlibat. Total ada 8 komunitas dengan jumlah 160 orang yang bergabung dalam acara bersih monumen,” imbuh dia. (kj1/kj3/mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana