MASYARAKAT yang menuju Kediri melalui Kasembon bakal menjumpai beberapa monumen bersejarah.
Selain Monumen Palagan Mendalan, ada Astana Karaeng Galesong.
Lokasinya di Jalan Indragiri, Dusun Kebonsari, Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.
Baca Juga: Kecelakaan di Malang Hari Ini, Minibus Terguling di Ngantang, Sopir dan Penumpang Patah Tulang
Di Astana Karaeng Galesong, terdapat peristirahatan terakhir dari pejuang Islam Karaeng Galesong.
Meski diperkirakan sudah ada sejak 1679, makam Karaeng Galengsong cukup terawat.
Sebab, gundukan makam dilindungi susunan batu bata tua berwarna merah seluas 192 meter persegi.
Saat siang hari, pemandangan di sekeliling makam juga menyejukkan.
Sebab, dikelilingi Gunung Kukusan, Gunung Kawi, dan perbukitan Selokurung.
Dalam sejarahnya, Karaeng Galesong sebenarnya bukan pejuang asli Malang.
Namun, pemilik nama lengkap I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong atau Raden KajoranKraeng Galengsung itu ikut membantu mengusir Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dari Kecamatan Ngantang.
Tepatnya dalam pertempuran yang berlangsung sekitar tahun 1670-an.
Menurut tulisan yang berjudul The Twilight of Karaeng Galesong’s Resistance Against VOC yang ditulis Melda Amelia Rohana bersama tim, disebutkan bila Karaeng Galesong merupakan anak Raja Kerajaan Islam Gowa Tallo, yakni Sultan Hasanuddin.
Tepatnya dari istri keempat, Loqmoq Toboq. Sejak masih muda, Karaeng Galesong berjuang bersama Sultan Hasanuddin untuk mengusir penjajah dari Makassar.
Tahun 1667, dia mendapat gelar Karaeng Galesong dan diangkat menjadi Karaeng ri Pannundukang.
Maknanya yakni seorang panglima perang yang bertanggung jawab atas peperangan dan perluasan atau penakluk.
Perjuangannya melawan penjajah terus berlanjut, terutama sejak menandatangani Perjanjian Bongaya.
Yakni perjanjian antara VOC dengan Gowa Tallo pada 1667.
Dia ikut mengejar penjajah hingga ke Jawa, termasuk Malang.
Baca Juga: Pembunuh Pelajar SMAN 1 Ngantang Malang Dihukum 7 Tahun
Dikutip dari buku berjudul Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Jawa Timur yang ditulis Heru Sukardi dan tim, sesudah Kerajaan Majapahit runtuh, pusat kekuasaan beralih ke Demak, Jawa Tengah.
Namun, proses Islamisasi tetap berlangsung di Jawa Timur dan semakin meluas.
Termasuk ke beberapa kerajaan kecil seperti Pasuruan, Panarukan dengan pusat Kerajaan Blambangan yang belum masuk Islam.
Kerajaan itu kemudian mencari bantuan kekuatan dari Portugis yang berada di Malaka (Malaysia) sejak 1511 Masehi.
Tidak bertahan lama, Kerajaan Blambangan kemudian diruntuhkan Sultan Agung bersama Amangkurat dari Mataram pada abad ke-17.
Sementara itu, di Jawa Tengah, Kerajaan Demak runtuh.
Kemudian digantikan oleh Kerajaan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir).
Kedudukan Joko Tingkir diakui oleh Sunan Giri.
Dia juga mendapat pengakuan dari sejumlah adipati di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Namun, Kerajaan Pajang hanya bertahan selama delapan tahun.
Tahun 1586 M, Kerajaan Pajang runtuh setelah diserang Bupati Mataram yang bernama Sutawijaya (Senopati).
Selama kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645), Kerajaan Mataram membuat Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Madura bersatu.
Kecuali Kerajaan Blambangan.
Baca Juga: Jelang Idul Kurban, Kambing Dampit-Ngantang Serbu Batu
Setelah digantikan Amangkurat I (1645-1677), terjadi perubahan.
Pada 1646, Kerajaan Mataram mengadakan perdamaian dengan VOC yang memungkinkan VOC mendirikan loji atau tempat tinggal di Jepara.
Itu menimbulkan tindakan kekejaman terhadap rakyat.
Rakyat yang kecewa kemudian bersekutu.
Ada Trunajaya (putera Demang Melayu dari Arisbaya-Madura), Raden Kajoran (panembahan Rama dari Kajoran Klaten, mertua Trunajaya, dan Pangeran Adipati Anom (putera Mahkota Mataram) yang bersatu.
Itu dilakukan untuk menggulingkan Amangkurat I.
Trunajaya mendapat bantuan dari Karaeng Galesong.
Sementara Amangkurat I dibantu oleh VOC.
Kebetulan, Karaeng Galesong adalah menantu Trunajaya.
Itu ditandai dengan Perjanjian Jepara (25 Maret 1677).
Belanda pun memperluas langkah setelah menandatangani perjanjian bersama Amangkurat II.
Tidak hanya itu, mereka juga menyerang dan meruntuhkan benteng-benteng Trunajaya pada 1679.
Sebagian pengikut Trunajaya akhirnya melarikan diri ke perbukitan Selokurung di Kecamatan Ngantang.
Beberapa pengikutnya yang melarikan diri diperkirakan sempat membentuk pemukiman Islam.
Itu dipaparkan dalam tulisan Identifikasi Tipologi Perkampungan Muslim di Kota Malang yang ditulis Nunik Junara dan Elok Mutiara.
Baca Juga: TRCC UM Kirim Air Bersih ke Lokasi Banjir Bandang Ngantang
Bahkan, Karaeng Galesong juga dimakamkan di sana setelah meninggal karena sakit.
Saat ini, keberadaan permukiman muslim di Kecamatan Ngantang sepeninggal Karaeng Galesong belum dapat dipastikan.
Sebab, masyarakat lokal maupun luar Kecamatan Ngantang sudah bercampur.
Masyarakat lokal hanya mengetahui bahwa di tempat mereka terdapat makam seorang pejuang bernama Karaeng Galesong.
Menurut Kepala Dusun Kebonsari Sugiyanto, dari cerita turun temurun, Karaeng Galesong datang ke sana membawa 4.000 pasukan.
”Tapi untuk cerita mengenai detail penyerangan hingga terbentuknya permukiman Islam masih terputus,” kata dia.
Sugiyanto memperkirakan, sebelum kedatangan Karaeng Galesong kebanyakan masyarakat memeluk aliran kepercayaan.
Kemudian, Karaeng dan sosok-sosok lain yang babad alas di sana melakukan syiar untuk menyebarkan Islam.
”Kalau sekarang sisa-sisa keturunan dari pengikutnya sudah tidak ada. Namun, orang-orang keturunan Sulawesi Selatan rutin berkunjung untuk ziarah di sini,” ceritanya.
Ada beberapa keturunan Sulawesi Selatan yang pernah berkunjung ke sana.
Misalnya saja, Raja Gowa keempat, Anggota DPR, La Nyalla Matalitti, dan Jusuf Kalla.
Ada pula tokoh lain yang bukan keturunan Sulawesi Selatan seperti mantan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo.
Mereka biasanya datang menggunakan baju adat kerajaan.
Sejak tahun 2010, makam Karaeng Galesong dilengkapi dengan prasasti.
Prasasti itu diberikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid dan dititipkan ke Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang bernama Kyai Muhammad Nurul Yaqin. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana