Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Rawan Longsor dan Banjir, BPBD Kabupaten Malang Berlakukan Darurat Bencana hingga April

Mahmudan • Sabtu, 4 Januari 2025 | 17:40 WIB

 

SIGAP: Penanganan lokasi yang terdampak longsor di Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan pada 31 desember lalu.
SIGAP: Penanganan lokasi yang terdampak longsor di Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan pada 31 desember lalu.

KEPANJEN – Hujan akan mengguyur hingga beberapa bulan ke depan.

Oleh karena itu, ancaman bencana hidrometereologi masih mengintai.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menyebut beberapa kecamatan rawan bencana.

Kecamatan rawan bencana didominasi area Malang selatan.

Seperti Gedangan, Kalipare, Kepanjen, Pagak, dan Sumbermanjing Wetan (Sumawe).

Perkiraan area rawan bencana tersebut mengacu pada data 2024.

Gedangan misalnya, diter jang 11 kali bencana, Kalipare, Kepanjen, dan Lawang masing masing 10 kali bencana, Pagak 18 bencana, dan Sumawe 12 kali bencana.

”Pagak paling banyak bencana. Ada 9 kali longsor, 2 kali banjir, kekeringan sekali, dan karhutla 9 kali,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kemarin.

Guna mengantisipasi bencana pada 2025, BPBD menerapkan kewaspadaan tanggap bencana.

”Sejak 3 Desember 2024 sampai 31 April 2025 diberlakukan tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Sudah ada SK bupati,” terangnya.

Untuk diketahui, bencana bencana yang tergolong hidrometereologi adalah kekeringan, banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tanah longsor, badai dan angin kencang.

Semuanya terjadi di Kabupaten Malang.

Berdasar prediksi dari BKMG, cuaca hujan disertai angin juga masih berlangsung sampai tanggal 31 April.

Pada 2024, BPBD mengungkap terjadi bencana angin kencang sebanyak 67 kali.

Kemudian 17 titik kekeringan, 18 karhutla, 20 kali banjir, dan 54 longsor.

Selain itu, sekitar 348 titik infrastruktur rusak ringan, 32 rusak sedang, dan 16 rusak berat.

Kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 2,8 miliar.

Kecenderungan bencana tersebut marak terjadi pada pertengahan menuju akhir tahun.

Antara Juli sampai Desember.

Kini, BPBD menyusun rencana operasi penanganan darurat bencana dan berkoordinasi dengan beberapa instansi.

Termasuk pengerahan sumber daya dan peralatan ketika terjadi bencana.

Khusus untuk koordinasi, Sadono menitik beratkan pada rehabilitasi dan rekonstruksi.

”Rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut masih dalam proses,” kata dia. (biy/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#hidrometereologi #BPBD Kabupaten Malang