GONDANGLEGI – Antusiasme masyarakat untuk ngabuburit mendongkrak perekonomian warga.
Para pedagang di pasar takjil misalnya, bisa mengais jutaan rupiah dalam hitungan beberapa jam berjualan.
Tingginya perputaran uang di pasar takjil terlihat di Gondanglegi, Kabupaten Malang.
Hampir semua lapak pedagang yang berjejer di jalanan area Pasar Gondanglegi dipadati pembeli.
Deretan lapak menyuguhkan berbagai jenis makanan dan minuman (mamin) untuk santapan berbuka puasa.
”Hari pertama Ramadan saya mengais hingga Rp 1,2 juta,” ujar Linda, salah satu pedagang di pasar takjil Gondanglegi.
Omzet Linda yang menyuguhkan 15 jenis makanan itu rata-rata di atas Rp 1 juta per hari.
Namun pendapatannya menurun ketika sore hari hujan deras.
Warga yang biasanya ngabuburit memilih memasak di rumah.
”Kalau bersamaan hujan, pendapatan menurun hingga 50 persen,” terangnya.
Selain faktor cuaca, dia mengatakan, biasanya omzet merosot ketika memasuki pertengahan Ramadan.
Antusiasme masyarakat untuk ngabuburit tidak setinggi awal Ramadan.
Diperkirakan, omzet naik lagi di pekan terakhir Ramadan.
”Biasanya kalau sepi dan makanan sisa, saya bagikan ke tetangga atau dihibahkan ke masjid,” kata perempuan yang sudah berjualan takjil selama 20 tahun itu.
Dia bersyukur lantaran tidak dikenai retribusi untuk kebersihan.
Dia cukup mengeluarkan uang Rp 500 ribu untuk biaya sewa tenda selama sebulan.
”Harus memakai tenda agar tidak terkena hujan,” katanya.
Pedagang lain, Hendra mengaku sehari bisa memperoleh uang kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu.
Dirinya menjual es teh berukuran besar dengan harga Rp 3 ribu per bungkus.
Dia bersyukur karena dagangannya selalu habis terjual.
”Mungkin karena murah dan praktis, sehingga banyak yang suka,” kata dia. (aff/dan)
Editor : A. Nugroho