Tahun Ini Pemkab Siapkan Dana Rp 480 Juta
KEPANJEN – Pemkab Malang memberi perhatian lebih terhadap Anak Tidak Sekolah (ATS).
Agar mereka bisa melanjutkan pendidikan, Bupati Malang H M. Sanusi mengalokasikan anggaran hingga Rp 480 juta.
Berdasar hasil verifikasi Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang cut off 11 November 2024 lalu, jumlah anak tidak sekolah mencapai 11.907 jiwa.
Baca Juga: Usai Viral dan Menuai Protes, Kemenkes Batalkan Penghapusan Beasiswa Pendidikan Dokter 2025
Dengan rincian, jenjang SD/MI ada 3.012 anak.
Terdiri atas drop out (DO) 936 anak dan lulus tidak melanjutkan (LTM) SD/MI sekitar 2.076 anak.
Kemudian jenjang SMP/MTs ada 8.895 anak.
Terdiri dari DO 3.418 anak dan LTM sekitar 5.477 anak.
Baca Juga: Mendiktisaintek Tegaskan KIP Kuliah dan Beasiswa Tidak Terkena Efisiensi Anggaran
Anggaran ratusan juta rupiah yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 bisa dimanfaatkan mereka.
"Per siswa mendapat jatah Rp 200 ribu per bulan. Penerimanya ada 200 siswa,” ucap Kepala Disdik Kabupaten Malang Suwadji.
Beasiswa tersebut diharapkan bisa memberi dorongan kepada ATS untuk bisa kembali bersekolah, baik bagi yang sudah DO maupun LTM.
Sifatnya pun tidak terusmenerus sampai lulus, tetapi hanya sebagai stimulan.
Penerimanya harus memenuhi kriteria.
Seperti anak DO atau LTM tersebut yang tercantum di dashboard Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.
Kemudian anak dari keluarga kurang mampu yang mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.
“ATS itu kan rata-rata karena faktor ekonomi orang tua. Orang tuanya tidak mampu, kadang anaknya jadi membantu kerja,” ujar pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Baca Juga: Kemenkeu Umumkan Pembatalan Beasiswa 2025 Akibat Langkah Efisiens
Sehingga dengan diberikannya beasiswa, diharapkan anak tersebut dapat lanjut bersekolah.
Namun, Suwadji mengatakan, selain ekonomi, motivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya maupun motivasi anak untuk bersekolah juga menentukan.
Menurut dia, banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pendidikan jangka panjang bagi masa depan anak mereka.
Baca Juga: 543 Pelajar SMA dan Mahasiswa di Kota Malang Dapat Beasiswa
“Atau sebaliknya, orang tua ingin anaknya sekolah tetapi anaknya yang tidak mau,” imbuh Suwadji.
Oleh karena itu, dia mengatakan, peran serta masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial, sangat dibutuhkan untuk mendorong anak-anak kembali ke sekolah.
“Sosialisasi terkait pentingnya pendidikan itu sering kami berikan, tetapi kalau tidak ada motivasi dari anak maupun orang tua, kami tentu kesulitan,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho