KALIPARE – Puluhan tahun dibiarkan mangkrak, Lapangan Golf Karangkates di Kecamatan Kalipare kini berubah fungsi. Aset olahraga yang dulu berkelas itu tak lagi mencetak pegolf, melainkan menjadi lahan tebu.
Lapangan golf yang terletak di tepi Bendungan Sutami, Desa Sukowilangun, itu sejatinya punya sejarah panjang. Dalam sejumlah referensi area ini sudah ada sejak masa penjajahan Jepang. Pada 1977, kawasan ini diperbarui bersamaan dengan pengembangan bendungan.
Karangkates Golf Club dilengkapi 18 hole dan sempat menarik pegolf dari Malang, Blitar, Tulungagung, hingga Kediri. Namun, dalam pengamatan Radar Kanjuruhan kemarin (21/9), kejayaan itu tinggal cerita. Tak terlihat pria berpakaian necis ala pegolf atau caddy yang sibuk memandu.
Mobil golf pun tak ada. Yang tampak justru hamparan rumput jepang yang tak terawat, bercampur tanaman tebu yang tumbuh lebat.
Kondisi bangunan pendopo yang dulu jadi tempat berkumpul juga memprihatinkan. Atap ditumbuhi pakis, genting copot, dan cat memudar. Pintu besi bertuliskan ”Karangkates Golf Club” di depan bangunan sudah berkarat. Bagian dalam kian tak terurus, plafon kayu banyak yang jebol, dan sarang laba-laba menggantung di langit-langit.
Camat Kalipare Nur Soleh Hidayat membenarkan sekarang lahan di sana dipakai untuk kebun tebu. ”Juga sudah tidak ada lagi yang memanfaatkan gedung itu, penjaga juga tidak ada,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan fasilitas itu sudah tidak lagi terkait olahraga golf. ”Tahun 2023 pernah dipakai teman-teman komunitas trail, sama berkumpul-kumpul komunitas lain,” imbuh Soleh.
Hingga kini, Pemkab Malang maupun pihak kecamatan tak bisa berbuat banyak. Pasalnya, lahan dan bangunan tersebut merupakan aset Perhutani BKPH Sumberpucung. Hal itu dibuktikan dengan adanya selebaran bertuliskan: ”Apabila Ingin Menggunakan Fasilitas/Lapangan Golf Harap Izin Tertulis kepada Kepala Perum Perhutani BKPH Sumberpucung” yang ditempel di dalam gedung.
Dengan kondisi terbengkalai, Karangkates Golf Club kini tinggal menyisakan nostalgia masa lalu. Dari simbol olahraga elit, kini berganti wajah menjadi kebun tebu dan bangunan kosong yang menunggu sentuhan revitalisasi. (biy/adn)
Editor : A. Nugroho