KABUPATEN – Pesona Gondanglegi yang menyedot 200 ribu pengunjung pada 15-16 November lalu, ternyata menghasilkan sampah cukup besar. Dinas lingkungan hidup (DLH) Kabupaten Malang memperkirakan, sampah pengunjung sekitar 10 ton.
Pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan kemarin, tumpukan sampah berada di tepi Jalan Ketawang, Kecamatan Gondanglegi. Untuk membersihkan sampah tersebut, DLH menerjunkan 15 personel. Selain itu, beberapa panitia, warga di sekitar venue Pesona Gondanglegi juga ikut kerja bakti bersih-bersih sampah. Namun “Sampah terbanyak itu plastik untuk alas duduk dan botol minum pengunjung,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman.
Anggotanya sudah bersih-bersih sejak acara selesai pada Minggu lalu (16/11). Namun volume sampahnya tergolong banyak. Selain itu, lokasi sampah yang menyebar di hampir seluruh venue Pesona Gondanglegi juga memperlambat petugas pembersihan. Apalagi venue karnaval yang bersebelahan dengan sungai. Otomatis sampah yang ditinggalkan penonton banyak yang ada di sungai.
Pria yang akrab disapa Avi itu mengimbau masyarakat untuk sadar dan menjaga kebersihan. Seperti sampah yang dihasilkan ketika melihat Pesona Gondanglegi, seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing pengunjung.
Di pihak lain, Ketua Pesona Gondanglegi ke-12 Iim Sahita Zahro menuturkan, ada sekitar 205 ribu orang yang hadir di karnaval tersebut. Acara berlangsung semarak karena pihaknya menerjunkan 4.300 kru dan penampil. “Masing-masing pengunjung juga sudah kami ingatkan agar membawa pulang sampahnya masing-masing,” paparnya.
Untuk berjaga-jaga, dia menarik uang kebersihan ke para pedagang yang mendirikan tenant. Masing-masing dari mereka ditarik harga Rp 35 ribu. Uang tersebut untuk biaya bersih-bersih.
Salah satu siswa di sekitar venue Pesona Gondanglegi, Irfan menuturkan, tiap tahun selalu ada agenda bersih-bersih Pesona Gondanglegi di sekolahnya. Kegiatan tersebut diperuntukkan bagi siswa yang terlambat masuk kelas. Sebab ketika menunggu panitia dan petugas DLH, dia yakin akan sangat lama.“Sedangkan kami butuh lingkungan yang bersih agar tenang saat belajar,” paparnya.(aff/dan)
Editor : A. Nugroho