Dia menyebut, semakin banyak kasus HIV baru yang ditemukan dan mendapat pengobatan, jumlah infeksi barunya juga bisa ditekan. Untuk diketahui, HIV yakni virus yang merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sel tersebut berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit. Jika sel-sel tersebut rusak dan jumlahnya berkurang, daya tahan tubuh akan melemah. Sehingga, mudah terkena infeksi dan penyakit lainnya.
Jika tidak ditangani dengan tepat, HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Yakni stadium akhir dan paling serius dari infeksi HIV. Jika sudah terkena AIDS, sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah dan tidak mampu melawan infeksi.
Tingginya kasus HIV yang ditemukan tersebut terjadi karena berbagai hal. Seperti terbatasnya informasi yang benar tentang HIV di kalangan masyarakat. Mulai dari penyebab, cara penularan, cara pencegahan, hingga pengobatan maupun penanganan HIV. Selain itu juga ada stigma negatif dan diskriminasi terhadap penderita HIV.
”Selain itu juga keterlambatan dalam deteksi dini HIV. Mayoritas itu datang untuk tes HIV jika muncul tanda gejala HIV dan itu sudah terlambat,” imbuhnya. Seharusnya, jika merasa melakukan perilaku berisiko HIV, secara sukarela harus melakukan tes. Sebelum gejala muncul dan berkembang menjadi AIDS.
Gejala orang yang terpapar HIV tidak bisa terlihat. Pasien itu akan bertingkah laku seperti orang sehat pada umumnya. Namun, semakin lama, ketika virus semakin berkembang, sistem imun akan memburuk.
Misalnya, jika orang yang sistem imunnya baik, masih bisa melawan bakteri dan bisa terhindar penyakit.
Sedangkan, orang yang terpapar HIV, tidak bisa melawan bakteri itu dan mudah terserang penyakit lain. Virus tersebut juga tidak bisa dihilangkan. Namun, perkembangannya dapat dikendalikan melalui pengobatan antiretroviral (ARV). (yun/by)
Editor : A. Nugroho