KEPANJEN – Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang untuk meningkatkan produksi pertanian padi. Selain intensifikasi bibit unggul, juga mengantisipasi serangan hama tikus. Salah satunya dengan memperbanyak bangunan rumah burung hantu (rubuha) di sawah.
Bupati Malag H M. Sanusi menyampaikan, rubuha tersebut efektif untuk mencegah serangan tikus.
“Nanti setiap dua hektare sawah kami beri satu pasang burung hantu. Mereka kan memangsa tikus-tikus yang berkeliaran di sawah tersebut,” ujar Sanusi ditemui beberapa waktu lalu.
Jika tidak ada aral, dia melanjutkan, rubuha akan direalisasikan tahun ini. Namun, dia belum bisa menentukan luasan sawah yang akan menerimanya.
“Kami menganggarkan sekitar Rp 5 juta untuk satu pasang. Pengadaannya nanti secara bertahap,” imbuh orang nomor satu di lingkungan Pemkab Malang itu.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Malang Makhrus Sholeh menambahkan, inovasi tersebut baru ada di satu kecamatan, yakni Kasembon.
Pihaknya berharap, rubuha dapat diberikan di kecamatan-kecamatan lain. “Satu pasang burung hantu bisa memangsa sekitar 10 ekor tikus, tergantung ukurannya. Jika tikusnya kecil, kemungkinan bisa 20 tikus,” ucapnya.
Sehingga diyakini cukup efektif untuk mengurangi hama tikus. Jika hama berkurang, diharapkan dapat meningkatkan produksi padi yang rata-rata saat ini masih sekitar 7-8 ton per hektare dengan bibit biasa.
Selama ini, para petani mengantisipasi hama secara manual dengan memasang jaring. Namun jaring tersebut hanya efektif untuk mencegah serangan hama burung. Seperti yang dilakukan Widayat, salah satu petani di Dusun Sumberkreco, Desa Sidomulyo, Kecamatan Jabung.
Dia rutin memasang jaring di sawah padinya saat berusia sekitar 3 bulan, sehingga bulan depan akan mulai panen.
“Jika tidak ditutup dengan jaring, saat panen nanti bisa habis,” kata pria berusia 60 tahun itu.
Dia menyebut, pada periode ini, prediksi panen di lahan dengan luas 2.800 meter persegi itu lebih bagus daripada sebelumnya. Dari yang sebelumnya 1,5 ton, periode ini diprediksi bisa mencapai 2 ton. sebelumnya, dia mengaku sempat kecolongan, sehingga padinya dimakan hama tikus. “Antisipasinya, saya beri pace (buah mengkudu). Kalau lahan sawahnya bau, tikus tidak mau mendekat,” pungkasnya. (yun/dan).
Editor : Aditya Novrian