KEPANJEN – Bumi Kanjuruhan kembali diterjang bencana hidrometeorologi. Dalam kurun dua hari, 2-3 Maret lalu, terjadi sembilan kali dilanda bencana, yakni banjir dan longsor. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan merinci jumlah bencana dan jenisnya dalam dua hari tersebut.
“Terdiri atas enam kejadian tanah longsor, sisanya banjir luapan,” kata dia kemarin. Khusus banjir, dia melanjutkan, semuanya terjadi pada Senin lalu (2/3). Air meluap hingga masuk permukiman warga di beberapa desa dan kecamatan. Di antaranya Desa Mangliawan di Kecamatan Pakis, Kelurahan Losari di Kecamatan Singosari, dan Desa Kasembon di Kecamatan Kasembon.
Dua lokasi, di Mangliawan dan Kasembon, terindikasi bahwa sungai penyebab banjir meluap karena tidak mampu menampung debit air. “Kalau yang di Kecamatan Singosari, yang kami dapati adanya sumbatan berupa rumpun bambu dengan volume ketebalan 5 meter, lebar kanan kiri 4 meter serta panjang 8 meter,” sebut Sadono.
Sementara untuk longsor, lokasinya lebih tersebar. Diurut dari kejadian Senin pada pukul 10.15, di Desa Jombok, Kecamatan Ngantang. Beberapa jam kemudian, yakni pukul 16.30 longsor melanda Desa Wonoagung dan Desa Kasembon. Kemudian sekitar pukul 19.00 di Desa Pait, Kecamatan Kasembon. Terakhir di Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang pada pukul 03.45 kemarin (3/3).
Total ada sembilan rumah yang mengalami kerusakan akibat diterjang longsor. “Yang di Jombok itu jalan yang terdampak. Jalan antar dusun dengan panjang 20 meter, lebar 5 meter ambles. Yang jalan lintas itu sempat terhambat lalu lintasnya, karena material menutup separo ruas jalan,” tandas Sadono. (biy/dan)
Editor : A. Nugroho