Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sektor Pertanian Meningkat, Kabupaten Malang Catat Tren Positif Produksi Buah dan Kopi

Biyan Mudzaky Hanindito • Minggu, 29 Maret 2026 | 14:16 WIB
KOMODITAS: Tim DTPHP Kabupaten Malang memeriksa kondisi pertanian kopi di Bumi Kanjuruhan beberapa waktu lalu. (DTPHP KABUPATEN MALANG FOR RADAR KANJURUHAN)
KOMODITAS: Tim DTPHP Kabupaten Malang memeriksa kondisi pertanian kopi di Bumi Kanjuruhan beberapa waktu lalu. (DTPHP KABUPATEN MALANG FOR RADAR KANJURUHAN)

KEPANJEN, RADAR MALANG Pertanian buah dan kopi menunjukkan tren positif. Hal itu terlihat dari hasil panen dan buah yang cenderung meningkat dalam dua tahun terakhir. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang mengungkap 28 jenis komoditas yang ditanam di Bumi Kanjuruhan. Mulai jeruk sampai sukun. Empat jenis di antaranya masuk komoditas unggulan.

”Alpukat, durian, jeruk siam, dan pisang itu komoditas unggulan,” ujar Kepala Bidang Hortikultura DTPHP Kabupaten Malang Heri Suntoro kemarin.

Baca Juga: Tekan Harga Cabai, Pemkot Malang Cari Stok dari Luar Daerah

Dia lantas memaparkan hasil panen komoditas unggulan yang gemilang seperti alpukat dan jeruk. Pada 2024 lalu, produksi alpukat mencapai 779.662 kuintal. Setahun kemudian naik 6,96 persen, sehingga menjadi 833.957 kuintal.

Sementara untuk jeruk siam atau keprok pada 2024 berada di angka 3.767.134 kuintal. Kemudian meningkat menjai 4.205.697 kuintal atau naik 11,61 persen pada 2025. Lalu produksi pisang pada 2024 mencapai 14.568.907 kuintal, naik 1,87 persen menjadi 14.841.695 kuintal.

Baca Juga: Produksi Jeruk di Kabupaten Malang Meningkat 43 Ribu Ton

Peningkatan hasil produksi tersebut karena banyaknya petani yang menerapkan sistem GAP (Good Agricultural Practices) atau praktik pertanian yang baik. Juga banyak yang sudah mengantisipasi organisme pengganggu tanaman.

Dari daftar tersebut, hanya durian yang tidak menunjukkan tren positif alias tumbang selama dua tahun tersebut. “Produksinya menurun dari tahun 2024 sebesar 1.297.386 kuintal jadi 780.455 kuintal,” sebut Heri.

Dia mengatakan, penurunan produktivitas karena cuaca tidak menentu. Juga karena curah hujan yang sekali namun langsung tinggi. “Itu menyebabkan pembentukan bunga terhambat akibat rontok, sekaligus dan bakal buah yang sudah terbangun rontok,” imbuh dia.

Baca Juga: Budidaya Ikan dan Udang Ditarget 13,7 Ribu Ton

Menurut dia, cuaca menjadi momok bagi kebanyakan petani buah. Namun OPT seperti hama dan penyakit tanaman juga turut menjadi ancaman. Heri mengatakan bahwa yang paling sering ditemui adalah layu fusarium.

Namun penanganan terhadap penyakit tanaman tersebut sudah ada. Pertama, tanaman yang sudah terinfeksi dicabut dan pengendalian bisa di gunakan dengan trichoderma dan kapur dolomit untuk meningkatkan Ph tanah. “Lalu kurangi penggunaan pupuk nitrogen tinggi dan bahan kimia berbahan aktif klorotalonil atau tembaga hidroksida,” ujar Heri.

Baca Juga: Pendapatan Daerah di Kabupaten Malang Tembus Rp 4,8 Triliun

Sementara untuk kopi, dia mengatakan, ada dua yang ditanam di Kabupaten Malang. Yaitu arabika dan robusta. ”Tapi unggulan di Bumi Kanjuruhan adalah robusta,” terangnya.

Jenis kopi tersebut ditanam di hampir semua kecamatan kecuali, Gondanglegi, Pagelaran, dan Sumberpucung. “Tahun 2025 produksi robusta 16.805 ton. Target kami, tahun ini ada peningkatan produksi sebanyak 2 persen,” kata terang dia. (biy/dan)

Editor : Mahmudan
#Pertanian