Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Trem Uap di Kendalpayak, Pernah Terhubung ke Pabrik Oeang Republik Indonesia

Biyan Mudzaky Hanindito • Rabu, 20 Mei 2026 | 17:14 WIB
Penumpang menunggu kedatangan trem uap di Stasiun Kendalpayak pada masa kolonial Belanda. (UNIVERSITEIT LEIDEN)
Penumpang menunggu kedatangan trem uap di Stasiun Kendalpayak pada masa kolonial Belanda. (UNIVERSITEIT LEIDEN)

RADAR MALANG – Kawasan Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, ternyata pernah menjadi titik penting jalur trem uap pada masa kolonial Belanda. Dari stasiun kecil di tepi jalan raya itu, rel bahkan bercabang langsung menuju sebuah pabrik yang pada awal kemerdekaan sempat digunakan mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI).

Kini, jejak Stasiun Kendalpayak nyaris hilang tanpa sisa. Kawasan yang dahulu dipenuhi suara peluit lokomotif dan derit roda besi itu telah berubah menjadi deretan pertokoan serta jalur padat kendaraan penghubung Kota dan Kabupaten Malang.

Kendalpayak Pernah Jadi Jalur Strategis Trem Uap Belanda

Lebih dari seabad lalu, Kendalpayak sudah dikenal sebagai kawasan ramai karena berada di jalur utama menuju wilayah selatan Malang. Aktivitas pertanian, perkebunan, hingga industri membuat kawasan tersebut berkembang pesat pada masa Hindia Belanda.

Baca Juga: Jejak Trem Uap di Turen yang Hilang Ditelan Zaman, Dulu Jadi Jalur Vital Angkut Singkong

Dalam buku De Tramwegen op Java, Gedenkboek, Samengesteld ter Gelegenheid van het vijf-en-twinting-jarig Bestaan der Semarang Joana Stoomtram Maatschappij karya M.M Couvee terbitan 1907, disebutkan perusahaan trem swasta Belanda, Malang Stoomtram Maatschappij (MS), mulai membangun jalur trem ringan dari Malang Jagalan menuju Bululawang pada 1897.

Penghobi sejarah kereta api, Endiarto Wijaya, menjelaskan jalur tersebut menjadi lintasan pertama MS di wilayah Malang.

“Jalur ke Bululawang ini merupakan jalur MS pertama karena di wilayah Bululawang juga ada Pabrik Gula Sempalwadak,” terangnya.

Lintasan Malang–Bululawang resmi dibuka pada 14 November 1897 dengan panjang sekitar 11 kilometer. Kendalpayak menjadi salah satu stasiun penting di jalur tersebut.

Bangunan Stasiun dan Rel Dipisahkan Jalan Raya

Meski berstatus stasiun, ukuran Stasiun Kendalpayak sebenarnya tidak terlalu besar. Bangunannya sederhana dan sebagian besar berbahan kayu.

Baca Juga: Menelusuri Sisa Rel dan Stasiun Trem di Daerah Singosari Malang

Yang unik, bangunan utama stasiun dan jalur rel dipisahkan oleh jalan raya Malang–Bululawang. Ruang loket, kantor kepala stasiun, ruang PPKA, hingga ruang tunggu berada di sisi timur jalan. Sedangkan rel dan peron berada di sisi barat.

“Stasiun Kendalpayak itu antara stasiun dan peronnya dipisah jalan raya Malang-Bululawang. Sampai tahun 1970-an masih seperti itu,” kata Endiarto.

Meski kecil, aktivitas trem di stasiun tersebut cukup padat. Dalam buku Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera terbitan 1926, hampir seluruh perjalanan trem dari arah utara maupun selatan tercatat berhenti di Kendalpayak.

Kereta mulai beroperasi sejak pukul 05.00 hingga sekitar pukul 17.00 setiap hari.

Punya Jalur Cabang ke Pabrik NIMEF

Ramainya aktivitas Stasiun Kendalpayak tidak lepas dari keberadaan industri besar di sekitarnya. Selain perkebunan tebu untuk kebutuhan Pabrik Gula Sempalwadak, kawasan tersebut juga memiliki pabrik bernama Nederlandsch-Indische Metaalwaren Emballage Fabrieken (NIMEF).

Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah Halte Trem Krebet Bululawang

Pabrik yang berdiri pada 1901 itu berada di belakang kawasan pos polisi Kendalpayak saat ini.

“Bangunan pabriknya sudah tidak ada, yang tersisa hanya gardu listrik tua,” imbuh anggota komunitas Railfans Malang Raya +444 tersebut.

Pada awalnya, NIMEF memproduksi kaleng dan kemasan logam untuk kebutuhan industri Hindia Belanda. Pabrik itu juga mencetak berbagai produk kertas, termasuk tiket trem milik MS.

Namun, peran NIMEF kemudian berkembang lebih besar. Pada awal masa kemerdekaan, pabrik tersebut sempat digunakan mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 1947.

“NIMEF di Kendalpayak terakhir nyetak Oeang Republik Indonesia tahun 1947,” ungkap Endiarto.

Berdasarkan dokumentasi foto peninggalan Belanda, terdapat rel cabang dari jalur dua Stasiun Kendalpayak yang langsung masuk ke area pabrik. Jalur tersebut dipakai untuk mengangkut bahan baku maupun hasil produksi menggunakan trem barang.

Kini Tinggal Menjadi Arsip Sejarah

Aktivitas industri dan trem di Kendalpayak perlahan menghilang setelah NIMEF terbakar pada Agustus 1948. Meski begitu, jalur trem di kawasan tersebut masih bertahan beberapa dekade sebelum akhirnya resmi ditutup pada 1978.

Kini, hampir tidak ada lagi jejak fisik Stasiun Kendalpayak. Rel telah lama dicabut, bangunan stasiun menghilang, dan kawasan di sekitarnya berubah menjadi pertokoan serta jalan raya yang padat kendaraan.

Padahal, di balik ramainya Kendalpayak hari ini, kawasan tersebut pernah menjadi saksi perjalanan trem uap dan industri penting di Malang pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan Indonesia.

Editor : Aditya Novrian
#Stasiun Kendalpayak #trem uap Malang #Oeang Republik Indonesia #NIMEF Kendalpayak #Sejarah Malang