Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penderita Skizofrenia Semakin Bertambah

Mardi Sampurno • Rabu, 7 Desember 2022 | 18:36 WIB
Ilustrasi penderita Skizofrenia (pinterest)
Ilustrasi penderita Skizofrenia (pinterest)
TAHUN LALU, DINKES UNGKAP ADA 761 KASUS

MALANG KOTA – Warga Malang yang mengidap skizofrenia cukup banyak. Pada 2021 lalu, dinas kesehatan (dinkes) Kota Malang mencatat sekitar 761 kasus. 593 kasus di antaranya merupakan penderita lama, sedangkan sisanya 168 kasus baru.

Untuk diketahui, skizofrenia adalah gangguan mental yang dapat memengaruhi tingkah laku, emosi, dan komunikasi. Penderita penyakit ini dapat mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.

Sub Koordinator Sub Substansi Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang drg Muhammad Zamroni mengatakan, pengobatan skizofrenia tidak berbeda dengan orang yang mengidap gangguan jiwa alias ODGJ. “Yakni dengan pendampingan di rumah atau saat kunjungan pasien ke puskesmas,” ujarnya, kemarin.

Terkait pelayanan gangguan mental melalui puskesmas, Kepala Puskesmas Rampal Claket dr Muhammad Ali Syahib memaparkan, hingga kini ini puskesmas di Kota Malang belum memiliki poli khusus untuk kesehatan jiwa. Karena itu, dia mengatakan, upaya yang dilakukan lebih kepada edukasi oleh penanggung jawab program jiwa dan pendampingan. “Jika belum pernah berobat atau masih labil, kami akan melakukan pendampingan.

Hal itu berupa pendataan hingga pemantauan intensif yang kami koordinasi dengan dinkes,” tuturnya. Namun, lebih lanjut pihaknya akan memberikan rujukan ke rumah sakit (RS) rujukan. Selain itu ada penanganan khusus ke rumah sakit jiwa seperti RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat. Guna meminimalkan risiko terkena skizofrenia, Syahib menyarankan agar masyarakat mengurangi stress.

Apabila perlu melakukan pemeriksaan kesehatan mental dan fisik secara berkala. “Bisa juga konseling secara mandiri atau pergi ke klinik,” imbuhnya. Sementara itu, spesialis kesehatan jiwa dr Ratri Istiqomah SpKJ mengatakan, beberapa tahun lalu skizofrenia mendominasi jenis pasien untuk rawat jalan.

Namun sekarang permasalahan kesehatan jiwa yang dialami pasien lebih beragam. Berbagai gangguan mental lain seperti bipolar, stres, maupun gangguan kepribadian juga kerap ditemukan. Meski demikian, dia mengatakan, kasus baru skizofrenia terus bertambah atau meningkat. “Banyak faktor yang berpengaruh terhadap skizofrenia.

Tapi yang berperan besar adalah faktor biologis, meski psikologis dan sosial juga turut berpengaruh,” terang Ratri. “Pasca mengalami skizofrenia, pasien yang memiliki hasil baik hanya sebesar 1-2 orang dari 10 pasien. Sisanya memburuk.

Misalnya sering kambuh, jarang berobat, dan melakukan percobaan bunuh diri,” ujar dokter yang berpraktik di dua rumah sakit tersebut. Di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA), dia mengatakan, jumlah pasien skizofrenia lebih banyak.

Dalam satu hari pasien yang berkunjung untuk kasus skizofrenia bisa sampai 50 persen dari sekitar 20 pasien yang berkunjung. ”Sementara di RS Lavalette sekitar 30 persen. Misalnya, dalam satu hari ada 20 pasien, pasien dengan skizofrenia bisa sekitar 6 orang,” tandasnya.(mel/dan) Editor : Mardi Sampurno
#Penderita Skizofrenia #dinkes kota malang #Kota Malang