MALANG KOTA – Kanker payudara masih tetap mendominasi kasus kanker secara nasional. Hal yang sama juga terjadi di Kota Malang.
Sepanjang 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat 388 kasus breast cancer. Meliputi 275 kasus lama dan 113 kasus baru.
Jumlah itu mengalami peningkatan daripada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2021 tercatat 360 kasus. Sementara pada 2020 terdapat 359 kasus kanker payudara.
Kebanyakan penderitanya merupakan perempuan usia produktif antara 15-59 tahun.
”Para lelaki juga perlu harus waspada. Sebab, pada kasus lama kami mencatat ada 7 laki-laki yang merupakan penderita kanker payudara,” kata Sub Koordinator Sub Substansi Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kesehatan Jiwa (P2P) Dinkes Kota Malang drg Muhammad Zamroni, 7 Februari 2023.
Baca Juga : Dinas Kesehatan Larang Peredaran Ciki Ngebul.
Dia mengingatkan, kanker payudara juga bisa menyebabkan kematian, meski angkanya tidak terlalu banyak. Misalnya pada 2022, terdapat satu kasus meninggal dunia untuk kanker payudara.
Di bawah kanker payudara, ada kanker serviks yang angkanya juga terbilang tinggi. Berdasar hasil rekapitulasi dinkes, kanker serviks di Kota Malang pada 2022 terdata 89 kasus.
Terdiri dari 60 kasus baru dan 29 kasus lama. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2021, yakni sebanyak 50 kasus dan pada 2020 terdapat 77 kasus.
”Kami juga mencatat penderita kanker kolektoral atau kanker yang menyerang usus besar sebanyak 6 kasus. Total sepanjang tahun 2022 ada 483 kasus kanker,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Malang.
Zamroni menambahkan, kanker bisa dicegah melalui berbagai macam cara. Seperti halnya melalui deteksi dini di fasilitas kesehatan terdekat.
Bahkan, dinkes juga rutin menggelar tes. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Sementara itu, Spesialis penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar dr Djoko Heri Hermanto SpPD-KHOM FINASIM mengakui, kanker payudara dan serviks masih mendominasi kasus kanker.
RSSA juga mengalami peningkatan kunjungan pasien kanker serviks dan payudara.
Djoko menjelaskan, ada beberapa penyebab peningkatan risiko kasus kanker payudara, terutama pada wanita.
Pertama, tidak menikah. Kedua, tidak memiliki anak. Ketiga, tidak pernah menyusui.
Ada pula menstruasi pertama kali lebih awal, hingga mutasi gen pembawa sifat kanker payudara.
”Untuk menangani kanker payudara, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Modalitas terapi kanker berupa operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi target, dan mengonsumsi obat,” sebut Djoko.
Dia menambahkan, belakangan sudah dikembangkan imunoterapi untuk kanker payudara. Di samping itu ada brakiterapi yang merupakan salah satu jenis radioterapi. (mel/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana