DALAM beberapa hari terakhir, Azzahra Mey Ayunda hanya terbaring di kasur rumahnya. Untuk berkomunikasi, dia biasanya menggerakkan beberapa bagian tubuhnya.
Gadis kecil yang akrab disapa Zahra itu menjadi tidak ceria seperti biasanya. Padahal, sebelumnya dia suka bermain, menyanyi, hingga berjoget di aplikasi TikTok.
Saat didatangi koran ini, gadis berusia 9 tahun itu tampak lemas. Ibunya, Siti Khusnul Khotimah mengatakan jika putrinya itu memang belum menjalani kemoterapi.
Khusnul menduga Zahra tak ingin kemoterapi karena sedang kesakitan. Sebab setelah menjalani proses itu, Zahra merasakan sejumlah efek samping seperti mual dan lemas.
Khusnul mengungkapkan, putrinya memang harus rutin menjalani kemoterapi karena kanker saraf atau neuroblastoma.
Kanker itu sudah dialami Zahra sejak November 2018 lalu. Tepatnya, saat gadis kecil kelahiran 4 Mei 2014 itu berusia 4 tahun.
Baca Juga : Kanker Payudara masih Mendominasi, Ini Kata Dokter soal Penyebabnya.
Kala itu, Zahra mendadak mengalami sakit panas. Kemudian, ada sakit perut yang menurut dokter adalah penyakit lambung.
Karena khawatir, Khusnul membawa putrinya ke praktik dokter di kawasan Wendit, Kecamatan Pakis.
”Padahal, sebelumnya tidak merasakan apa-apa. Waktu lahir kondisinya juga normal dan tidak ada kelainan tertentu, tapi tiba-tiba sakit seperti ini,” kata Khusnul.
Selama satu minggu, Zahra menjalani pengobatan hingga akhirnya pulih. Namun, tak lama kemudian timbul memar dan bengkak di bagian mata dan wajah sebelah kiri.
Zahra akhirnya dibawa ke RS Puri Bunda. Dari hasil pemeriksaan, menunjukkan jika kadar hemoglobin (Hb) Zahra tinggal tiga persen.
Karena kondisi tersebut, dokter meminta Zahra dirawat inap serta menjalani transfusi darah selama satu minggu. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Saat sudah membaik, kondisinya kembali drop hingga Hb-nya tersisa 5 persen. Lagi-lagi, Zahra harus berobat ke Puskesmas.
Setelah dari sana, Zahra akhirnya dirujuk ke RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. ”Setelah melakukan CT Scan, baru ketahuan kalau Zahra kena kanker saraf,” jelas Khusnul.
Kanker saraf tersebut membuat bagian kepala Zahra membengkak. Sebab, di kepalanya terdapat sejumlah benjolan.
Bahkan, mata sebelah kanan Zahra pernah bengkak hingga berwarna kemerahan. Namun, karena berada di bagian saraf, terlalu berisiko untuk dilakukan operasi.
Sehingga, dokter menyarankan agar Zahra menjalani kemoterapi. Selama lima tahun, total Zahra sudah menjalani kemoterapi sebanyak 24 kali.
Jika kondisinya membaik, benjolan di kepalanya akan kempis. Sebaliknya, jika kondisinya drop, benjolan akan membesar seperti sekarang. Bobot tubuhnya pun menurun.
Baca Juga : 8 Bulan, Catat 42 Kasus Kanker Serviks.
Demi menjaga agar kondisi Zahra membaik, keluarga pun harus bolak-balik membawanya ke RSSA Malang. Dalam satu bulan, terkadang dia harus menjalani satu hingga dua kali kemoterapi.
”Ya sekeluarga ikut ke RSSA sampai menginap. Kakak sulungnya juga ikut menemani karena Zahra hanya nurut dengan kakaknya. Tapi tidak tahu kenapa dia lagi tidak mau kemoterapi,” imbuhnya.
Padahal, seharusnya sekarang merupakan jadwal Zahra melakukan CT Scan. Tim dokter RSSA bersama Komunitas Sahabat Anak Kanker (SAK) bahkan harus datang membujuknya. Namun, belum mempan.
Berbagai upaya pun terus diupayakan keluarga supaya kesehatan Zahra tak semakin menurun. Termasuk menjual berbagai perkakas di rumah.
Itu harus dilakukan karena ayahnya hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara Khusnul mengurus rumah tangga.
Kini, mereka juga ketambahan dua anggota keluarga baru. ”Bulan Mei lalu saya melahirkan dua anak kembar,” tandas Khusnul. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Di RSSA, 60 Persen Pasiennya Mengidap Kanker Darah
Dari pendalaman Jawa Pos Radar Malang, jumlah anak penderita kanker di Malang cenderung naik setiap tahun. Seperti yang terjadi di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Saat ini, ada sekitar 45 pasien anak yang ditangani di sana.
Kepala Divisi Hematologi-Onkologi Anak RSSA Malang dr Susanto Nugroho SpA(K) menyebut, leukemia atau kanker darah masih mendominasi kasus pada anak.
”Secara persentase jumlahnya 60 persen, terutama pada anak-anak yang berumur 1 sampai 10 tahun,” kata pria yang akrab disapa Santo itu, kemarin (14/2).
Namun, sepanjang 2022 lalu, pihaknya mencatat perubahan tren. Kanker limfoma (tumor kelenjar getah bening) dan tumor otak justru cenderung mengalami peningkatan.
Meski begitu, Santo tidak mengetahui jumlah pastinya. ”Sementara, tren pada tingkat kesembuhan relatif tetap atau sedikit meningkat. Terutama untuk kasus LLA (leukemia limfoblastik akut),” imbuh pembina Komunitas Sahabat Anak Kanker (SAK) tersebut.
Baca Juga : Anak Bakal Wajib Vaksin Penangkal Kanker Serviks.
Santo menjelaskan, secara umum tidak diketahui penyebab pasti kanker pada amal. Namun, ada dua faktor utama yang bisa menjadi penyebab kanker.
Yakni genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan antara lain paparan ultraviolet, radiasi, bahan kimia, pestisida, bahan makanan yang tidak sehat, hingga polusi.
Namun, dari sekian risiko, faktor lingkungan tidak lebih dari 20 persen yang menjadi pemicu kanker. Penyebab lainnya 100 persen belum memiliki bukti ilmiah.
Meski demikian, baik faktor lingkungan maupun genetik saling bersinggungan. ”Faktor yang menjadi pemicu kanker perlu dipahami. Ini bertujuan agar masyarakat tidak salah mengerti hingga menimbulkan stigma. Takutnya, penderita kanker dijauhi karena dianggap membawa gen jelek,” papar dokter kelahiran Semarang tersebut. (mel/by)
Kanker Anak di Kota Malang
- Jumlah anak penderita kanker cenderung naik tiap tahunnya. Seperti terlihat di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
- Sepertiga dari 135 tempat tidur yang tersedia untuk anak penderita kanker sudah terisi.
- Leukemia atau kanker darah masih mendominasi kasus pada anak.
- Disusul limfoma (tumor kelenjar getah bening), retinoblastoma (kanker mata), neuroblastoma (tumor otak), dan osteosarcoma (tumor tulang).
- Leukimia yang banyak ditemukan pada anak-anak adalah leukemia limfoblastik akut (LLA).
- Di tahun 2022, RSSA Malang mencatat perubahan tren. Kanker limfoma dan tumor otak diketahui mengalami peningkatan.
Sumber: RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana